Minggu, 31 Maret 2013

PENGGUNAAN MATAHARI, ANGIN DAN BAHAN BAKAR MINYAK DI DALAM MANAJEMEN PROYEK


Sistem Matahari
Teknik Sipil - Sistem matahari memanfaatkan sinar matahari untuk menciptakan listrik dengan menggunakan panel-panel matahari. Panel-panel matahari ini harus diletakkan di tempat yang langsung menerima panas matahari, tidak terlindungi/diteduhi gedunggedung, pohon, dan lain sebagainya. Namun, jika panel-panel matahari terlalu panas, mereka juga tidak bekerja. Ini terjadi jika panel menyentuh logam atau atap seng. Jika memungkinkan jauhkan mereka atau taruh banyak perekat/isolasi (bahan-bahan bekas, kardus, bambu, kayu, dan lain sebagainya) di antara atap/logam dan panel. Sistem matahari ini telah digunakan di banyak negara didalam manajemen proyek. Sistem ini dapat menyediakan listrik di mana saja, dan dengan pengetahuan yang tepat akan mudah untuk memasangnya. Namun, penting juga untuk memiliki pengetahuan bagaimana merawat dan mengoperasikannya dengan benar, khususnya baterainya, yang harus diperhatikan baik-baik karena apabila perawatan dan penggunaan yang salah, alat ini akan menjadi cepat rusak. Alat ini harganya cukup mahal, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik yang ramah lingkungan bagi masyarakat didalam manajemen proyek.

Sistem Angin
Angin juga dapat digunakan untuk membangkitkan listrik. Generator angin menggunakan kincir yang berputar ketika angin bertiup, yang menyebabkan sejumlah komponen lainnya ikut bergerak membawa daya ke pompa atau generator. Tenaga yang diciptakan lalu disimpan di baterai-baterai besar untuk menyediakan listrik. Generator-generator angin ukurannya bervariasi, dari yang kecil untuk menyediakan listrik bagi keperluan rumah tangga sendiri, atau yang sangat besar, yang menciptakan listrik untuk banyak perumahan.

Di beberapa negara, banyak generator angin besar dibuat untuk ditempatkan di daerah-daerah yang anginnya kuat untuk menciptakan banyak listrik didalam manajemen proyek. Ini disebut pertanian angin.Di masa depan, petanian-pertanian angin yang besar dapat menyediakan listrik untuk kebutuhan kota-kota, menggantikan generator-generator diesel. Untuk hal ini sangat dibutuhkan kerjasama pemerintah dan pihak swasta. Pertanian angin memang membutuhkan banyak biaya untuk membangunnya, tapi menghemat uang dan lebih berkelanjutan bagi masa depan. Pertanian angin dapat menjadi bagian dari sistem nasional dan dapat digabungkan dengan sumber-sumber listrik alami lainnya didalam manajemen proyek.

Bahan Bakar Minyak
Mobil, truk, sepeda motor, dan kendaraan lainnya menciptakan banyak masalah polusi di dunia saat ini. Polusi telah dimulai dari proses pertambangan untuk memperoleh bahan bakar, hingga saat kendaraan sedang menggunakan bahan bakar tersebut. Teknologi-teknologi baru telah diciptakan untuk mengurangi masalah-masalah ini, seperti mobil bertenaga listrik atau hidrogen. Ada teknologi sederhana yang menggunakan minyak kelapa untuk mesin diesel, yang akan dibahas secara singkat di sini didalam manajemen proyek.

Minyak Kelapa untuk Mesin Diesel
Mobil dan mesin diesel bisa bekerja dengan minyak kelapa berkualitas baik. Dengan sedikit perubahan dan sebuah pemanas minyak, mobil juga langsung bekerja dengan minyak goreng bekas! Teknologi ini dan yang lainnya bisa ditemukan di buku-buku dan di internet. Minyak kelapa untuk mesin dan mobil diesel adalah cara yang paling sederhana dan paling cocok, dan telah dilakukan beberapa penelitian dan ujicoba tentang hal ini didalam manajemen proyek. 

Minyak kelapa bisa digunakan untuk semua mesin diesel, termasuk mobil, truk, traktor tangan, gilingan padi, generator kecil, pompa, dan lainnya. Minyak kelapa yang dipakai haruslah minyak kelapa dengan kualitas terbaik karena jika tidak, justru akan merusak mesin. Minyak goreng yang biasa dibeli di pasar tidak bisa digunakan karena umumnya bermutu rendah. Untuk menggunakannya, campurkan 20 bagian minyak kelapa ke 1 bagian minyak tanah (5%) didalam manajemen proyek. Ini membantu untuk menjadikannya encer. Di daerah dingin, campurkan 10 bagian minyak kelapa ke 1 bagian minyak tanah (10%). Hal ini telah berhasil diterapkan di Bougenville, Papua New Guinea, selama bertahun-tahun dan sekarang juga telah diterapkan di Fiji dan Thailand.

LISTRIK DAN SISTEM BIOGAS DI DALAM MANJEMEN PROYEK


Listrik
Teknik Sipil - Tarif listrik kini mulai mahal dan akan meningkat lagi, sehingga menghemat listrik merupakan tindakan yang sangat bijaksana. Menghemat energi sudah semestinya dilakukan oleh masyarakat seluruh dunia. Produksi listrik alami jauh lebih baik untuk masa depan. Di samping menghasilkan hanya sedikit polusi, sistem ini juga dapat dipakai untuk seluruh lapisan masyarakat, baik individu maupun untuk kepentingan umum didalam manajemen proyek.

Sistem Hydro-listrik
Sistem hydro-listrik menggunakan arus air untuk menciptakan listrik. Air dari sungai, dam atau danau dialiri melalui pipa yang mengalir menuruni bukit, lalu membuat kincir berputar di unit hydro-listrik, yang kemudian menggerakkan turbin untuk menciptakan listrik. Listrik ini disimpan dalam baterai-baterai untuk selanjutnya siap digunakan didalam manajemen proyek. Sistem hydro-listrik dapat berbeda-beda sesuai ukuran, baik dari sistem micro-hydro kecil yang menyediakan listrik untuk beberapa rumah atau desa, bahkan hingga sistem-sistem hydro-listrik yang sangat besar yang dijalankan dari danau atau dam besar yang dapat menyediakan listrik untuk daerah yang lebih besar, misalnya untuk daerah kota atau provinsi didalam manajemen proyek.

Sistem hydro-listrik kecil lebih banyak memiliki keuntungan, seperti:
  • Menghasilkan listrik yang kecil namun berkelanjutan.
  • Lebih ramah lingkungan dibandingkan sistem hydrolistrik yang lebih besar, baik dalam perakitannya, maupun dampak jangka panjangnya.
  • Perawatannya lebih mudah dibanding sistem hydro-listrik yang lebih besar, dan sistem lainnya seperti sistem tenaga matahari.
  • Menggunakan lebih sedikit aki/baterai didalam manajemen proyek.

Sistem Biogas
Sistem biogas mengumpulkan gas methane, yaitu gas yang mudah terbakar yang dapat digunakan untuk memasak, alat penerangan gas, menjalankan mesin-mesin pembakaran, dan menciptakan energi listrik. Gas methane tercipta secara alami ketika kotoran hewan, kotoran manusia, sekam padi, daun-daun, tanaman air dan rumput membusuk didalam manajemen proyek. Dalam sistem biogas, bahan-bahan yang membusuk ini dikumpulkan dalam tangki biogas, gas akan terperangkap dan terkumpul dalam tangki untuk kemudian dimanfaatkan. Bahan-bahan baru dapat terus ditambahkan ke dalam tangki, dan bahan-bahan lama dapat dikeluarkan dan bisa dimanfaatkan sebagai pupuk berkualitas tinggi didalam manajemen proyek.

Ada banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari sistem ini, antara lain:
  • Gas dan listrik dihasilkan dari sumber-sumber yang tersedia dan murah.
  • Gas menggantikan kebutuhan kayu bakar, yang membantu mengurangi polusi asap didalam manajemen proyek.
  • Kotoran dan bahan-bahan lainnya menyimpan zatzat yang dibutuhkan tanaman,yang karena proses produksi gas, kandungan zat-zat ini meningkat. Ketika bahan-bahan yang membusuk ini telah selesai memproduksi gas methane, bahan-bahan ini selanjutnya dapat digunakan untuk membuat kompos atau digunakan langsung sebagai pupuk. Namun berhati-hatilah, karena pupuk ini sangat kuat didalam manajemen proyek.
  • Hampir semua bakteri buruk dalam kotoran yang dapat menciptakan penyakit, terbunuh dalam tangki biogas sehingga penyakit bagi manusia dan hewan bisa berkurang. Sistem ini telah digunakan di banyak negara dan merupakan teknologi yang sangat baik. Ada banyak disain yang berbeda-beda, tergantung pada tipe bahan yang tersedia, uang, dan tujuan penggunaan.

Beberapa fakta-fakta dasar tentang sistem biogas:
  • 1 m3 (1 m x 1 m x 1 m) gas methane, bisa menyediakan: Gas untuk memasak makanan 3 keluarga, atau 6 jam nyala lampu dari lampu pijar, atau 700 ml bahan bakar untuk menjalankan generator 2 tenaga kuda untuk 2 jam, atau 1.25 kw listrik.
  • 1.5 m3 ukuran tangki per orang akan menyediakan cukup gas methane untuk kebutuhan sehari-hari (atau, 15 m3 untuk 10 orang) didalam manajemen proyek.
Sistem biogas merupakan sistem yang anaerobic (tidak ada oksigen) sehingga harus dibuat kedap udara dan kedap air. Perawatan dalam sistem ini meliputi tingkat air, tingkat pH, temperatur, campuran bahan-bahan yang dimasukkan, perlindungan dari bahan-bahan yang berbahaya, dan pengaturan putaran tangki didalam manajemen proyek. Untuk dapat menciptakan dan merawat sistem biogas, diperlukan penelitian dan pengetahuan teknik yang bisa dipelajari dari buku-buku, internet, atau LSM yang berkecimpung di sistem ini, sehingga diperoleh keterampilan dan pengetahuan yang lebih baik, termasuk pengetahuan tentang keuntungan-keuntungan dan pemanfaatan sistem biogas didalam manajemen proyek.

CARA MEMBUAT DAN MENGGUNAKAN BRIKET ARANG DI DALAM MANAJEMEN PROYEK


Bahan Bakar Briket Arang
Teknik Sipil - Kayu bakar mahal dan meminta kerja keras untuk mengumpulkannya. Disamping itu, kayu bakar menghasilkan banyak asap. Briket arang adalah bahan bakar untuk memasak yang tahan lama dan menghasilkan sedikit asap. Briket arang dapat dibuat dengan mudah dan menggunakan bahan-bahan lokal didalam manajemen proyek.

Membuat Briket Arang
Langkah-langkah untuk membuat briket arang adalah sebagai berikut:
  1. Potong ujung drum. Balikkan, lalu potong lingkaran kecil, selebar 20 cm, di tengah-tengah tutup ujung yang lain. Pastikan tepiannya yang tajam dilekukkan ke dalam didalam manajemen proyek.
  2. Isi drum dengan daun-daun bambu yang segar, pecahan batang bambu yang tipis (tidak kering), tempurung kelapa dan sabutnya, sekam kopi, sekam padi, dedaunan(daun bambu yang terbaik). Bakar bahan-bahan tersebut dengan perlahan dan sekali-kali aduk api dengan batang kayu melalui lubang atas drum. Sekali-sekali, cipratkan air untuk memperlambat proses pembakaran. Tambahkan sisa bahan-bahan kalau ada. Ketika semua bahan telah terbakar dan menjadi potongan-potongan arang hitam, matikan api dengan air. Arang hitam akan tertinggal di bawah didalam manajemen proyek.
  3. Buat perekat. Lumatkan beberapa singkong segar dan ambil santannya. Tambahkan air untuk membuat lem/ perekat yang kental. Atau, hancurkan batang singkong, taruh dalam ember (tidak termasuk kulitnya) dan campur dengan air. Biarkan campuran mengendap. Campuran itu akan terpisah menjadi air pada atasnya dan perekat berada di bawah. Tuangkan air keluar sehingga yang tertinggal hanya perekatnya.
  4. Campur arang hitam dengan lem/ perekat singkong. (90 sampai 95% arang dan 5 sampai 10% perekat singkong.) Letakkan campuran ini ke dalam cetakan, lalu jemur di bawah sinar matahari sampai kering didalam manajemen proyek.

Menggunakan Briket Arang
Briket arang dapat digunakan untuk memasak dengan api terbuka, tungku atau oven tanah liat. Briket arang akan terbakar perlahan-lahan dan menghasilkan panas yang konstan didalam manajemen proyek.

Mulailah membuat api kecil dengan batang kayu lalu tambahkan briket arang ketika api mulai menyala. Perlahan briket akan terbakar dengan sendirinya didalam manajemen proyek.

Tambahkan beberapa batang kayu lagi jika Anda perlu meningkatkan panas, dan tambah lagi briket arang jika diperlukan didalam manajemen proyek.

PERATURAN TEKNIS BANGUNAN YANG DIGUNAKAN UNTUK REHABILITASI GEDUNG SEKOLAH


1. Ukuran ruang
a. Ruang kelas = 7.00 m x 8.00 m dengan lebar teras 1.80 m - 2.00 m.
b. Ruang perpustakaan = 7.00 m x 8.00 m
b. Tinggi ruang kelas/perpustakaan Tinggi plafond minimal 3.50 meter dari lantai.

2. Struktur bangunan
Bangunan sekolah adalah salah satu fasilitas umum yang harus memiliki tingkat keamanan yang tinggi dan memiliki usia pemakaian yang cukup lama. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, dalam pelaksanaan pembangunan/rehabilitasi gedung sekolah atau pembangunan ruang perpustakaan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut didalam manajemen proyek:
  • Bangunan dengan dinding tembok harus diperkuat dengan struktur dari beton bertulang atau kayu dengan kelas kuat 1 agar bangunan menjadi kokoh dan permanen.
  • Bangunan panggung dengan bahan dari kayu dapat menggunakan struktur dari beton bertulang atau kayu minimal dengan kelas kuat 2.
  • Untuk menjamin kekokohan struktur dan mempertimbangkan faktor keamanan terhadap bencana gempa bumi maka struktur bangunan dari beton bertulang harus memenuhi ketentuan sebagai berikut didalam manajemen proyek:
  1. Menggunakan beton mutu K 175 atau dibuat dengan campuran 1 PC : 2 Pasir : 3 Kerikil.
  2. Sloof ukuran 15/20 dengan tulangan 4 Ø 10
  3. Kolom praktis ukuran minimal 15/15 dengan tulangan 4 Ø 10
  4. Ring balk praktis ukuran 11/15 dengan tulangan 4 Ø 10
  5. Ukuran dan jumlah tulangan untuk sloof, kolom dan ring struktur dihitung berdasarkan beban yang bekerja dan mutu bahan yang digunakan, sehingga diperoleh kekuatan struktur yang aman.

3. Konstruksi atap
  • Penutup atap menggunakan bahan yang tersedia dan mudah didapatkan lapangan a.l genteng, asbes gelombang, seng gelombang minimal tipe BJLS 25, sirap dsb.
  • Kemiringan atap disesuaikan dengan persyaratan bahan penutup atap yang digunakan.
  • Konstruksi pemikul atap (kuda-kuda, balok tembok, gording, nok) menggunakan kayu kelas kuat 2 atau konstruksi baja ringan didalam manajemen proyek.
  • Usuk dan reng menggunakan kayu kelas kuat 2.
  • Untuk memperoleh konstruksi atap yang rata dan kokoh, jarak pemasangan gording diatur sesuai dengan ketentuan yang ditur dalam PKKI.
  • Untuk mengurangi panas ruang di bawah atap dapat diatasi dengan cara memasang ventilasi pada gewel (layar) atau plafond lambersiring pada teritisan.

4. Konstruksi plafond
  • Rangka plafond menggunakan kayu kelas kuat 3 dengan konstruksi yang cukup kuat untuk menahan berat penutup plafond ditambah beban 1 (satu) orang pekerja.
  • Penutup plafond dapat menggunakan asbes datar atau triplek, anyaman bambu atau bahan lain yang memenuhi persyaratan sebagai bahan penutup plafond.
  • Penutup plafond harus dipaku cukup kuat dengan rangka plafond agar tidak melendut atau terlepas didalam manajemen proyek.

5. Konstruksi dinding
  • Jika tembok yang lama dalam kondisi lembab, plesteran bagian bawah setinggi 50 cm sampai dengan 100 cm dibongkar dan diganti dengan plesteran kedap air.
  • Pasangan tembok baru harus dipasang trasram setinggi 20 cm dari lantai dan diplester kedap air sampai ketinggian yang sama dengan trasram didalam manajemen proyek.
  • Pasangan tembok baru untuk KM/WC harus dipasang trasram setinggi 150 cm dari lantai dan diplester kedap air sampai ketinggian yang sama dengan trasram.
  • Dinding dari papan menggunakan kayu kelas kuat 3 yang sudah kering dan diketam halus.

6. Pintu
  1. Bahan untuk kosen dan daun pintu, menggunakan kayu kelas awet 2 yang sudah kering.
  2. Daun pintu ruang kelas atau perpustakaan menggunakan panil dengan tebal minimal 3 cm
  3. Daun pintu KM/WC dapat dibuat dari panil atau triplek dengan bagian dalam dilapisi seng/aluminium/aluminium foil atau pintu PVC.
  4. Ukuran pintu disesuaikan dengan standar yang berlaku.
  5. Pemasangan daun pintu menggunakan 3 buah engsel dengan ukuran minimal 4 ” dan dilengkapi dengan kunci yang berkualitas baik didalam manajemen proyek.

7. Jendela dan ventilasi
  • Bahan untuk jendela dan ventilasi menggunakan kayu kelas awet 2 yang sudah kering.
  • Ketinggian ambang bawah jendela minimal 1.10 m dari lantai.
  • Jendela dibuat dari kaca mati dan daun jendela kaca dengan tebal 5 mm.
  • Ventilasi dipasang secara bersilangan (cross ventilation) untuk memperoleh sirkulasi udara yang baik di dalam ruang kelas didalam manajemen proyek.
  • Ventilasi dapat diisi dengan jalusi dari kayu, kaca silang, kaca tidak penuh, atau daun ventilasi kaca agar cahaya dan sirkulasi udara dapat memasuki ruangan dengan baik. Tebal kaca untuk ventilasi adalah 5 mm

8. Penutup lantai
Bahan untuk penutup lantai dapat menggunakan :
  • Keramik dengan warna terang (untuk lantai teras dipasang keramik dof dengan warna lebih gelap dari warna keramik bagian dalam ruangan).
  • Pasangan tegel traso atau tegel abu-abu didalam manajemen proyek.
  • Plesteran yang dilapisi dengan acian portland cement yang digosok halus dan rata.
  • Catatan: Diutamakan penutup lantai menggunakan keramik. Tegel atau plesteran adalah pilihan terakhir apabila dana tidak cukup untuk pemasangan pentup lantai dari keramik
  • Papan kayu kelas kuat 2 s.d 3 dengan tebal minimal 2,00 cm yang sudah kering (untuk bangunan panggung).

9. Pekerjaan finishing
  • Pekerjaan finishing dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut::
  • Finishing untuk dinding dari tembok dan plafond menggunakan cat tembok. Tembok luar yang berhubungan dengan teras setinggi ambang bawah jendela dilapisi dengan keramik atau difinishing dengan cat genteng atau cat tahan air dengan warna lebih gelap dari cat tembok di atasnya didalam manajemen proyek.
  • Finishing untuk dinding dari papan menggunakan cat tembok. Bagian bawah setinggi ambang bawah jendela difinishing dengan cat kayu dengan warna lebih gelap dari cat dinding di atasnya.
  • Finishing pintu, jendela dan vetilasi menggunakan cat kayu/politur.
  • Komposisi pemilihan warna cat agar menggunakan warna terang dan dibuat serasi sesuai dengan kondisi dan ciri khas daerahnya didalam manajemen proyek.
  • Bahan finishing yang digunakan harus berkualitas baik.
  • 10. Kamar mandi/water closed
  1. Jumlah ruang KM/WC disesuaikan kebutuhan masing-masing sekolah dengan ukuran setiap ruang = 1,50 m x 2,00 m.
  2. Kloset menggunakan jenis kloset jongkok dari porselin dengan kualitas standar didalam manajemen proyek.
  3. Penutup lantai KM/WC menggunakan keramik untuk lantai basah.
  4. Dinding dalam diupayakan dipasang keramik atau dicat dengan cat tahan air setinggi 150 cm.
  5. Dilengkapi dengan jaringan air bersih, jaringan air kotor, septictank dan resapan yang dapat berfungsi dengan baik didalam manajemen proyek.

PERAWATAN DAN PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG DI DALAM MANAJEMEN PROYEK

Teknik Sipil - Pemeliharan (maintenance) bangunan adalah sangat penting dan perlu setelah bangunan tersebut selesai dibangun dan dipergunakan. Pemeliharaan ini akan membuat umur bangunan tersebut menjadi lebih panjang, ditinjau dari aspek : kekuatan, keamanan, dan penampilan (performance) bangunan. Bahwa berhasil atau tidaknya suatu pembangunan gedung dapat dilihat dari usia pemakaian bangunan sesuai dengan rancangan bangunannya dan tata cara pemeliharaan terhadap bangunan itu sendiri didalam manajemen proyek.

Pada umumnya usia suatu bangunan diperhitungkan ± 20 tahun. Oleh karena itu, pekerjaan pemeliharaan sangat penting dan dilakukan pada tahap pra konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi secara rutin, terus menerus dan periodik dengan memperhatikan spesifikasi teknis bahan. Dengan adanya pemeliharaan yang rutin maka diharapkan bila terjadi kerusakan tidak memerlukan biaya perbaikan / pemeliharaan yang tinggi didalam manajemen proyek.

Lingkup pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung meliputi didalam manajemen proyek:
a. Pemeliharaan bangunan gedung;
b. Perawatan bangunan gedung.

Pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung meliputi persyaratan yang terkait dengan :
a. keselamatan bangunan gedung;
b. kesehatan bangunan gedung;
c. kenyamanan bangunan gedung; dan
d. kemudahan bangunan gedung.

Tata cara dan metode pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung meliputi didalam manajemen proyek:
a. prosedur dan metode pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung;
b. program kerja pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung;
c. perlengkapan dan peralatan untuk pekerjaan pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung; dan
d. standar dan kinerja pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung.

TEMPAT PENYIMPANAN AIR DAN PASOKANNYA DI DALAM MANAJEMEN PROYEK


Memperoleh Air
Teknik Sipil - Mengambil air adalah pekerjaan yang sangat berat yang menghabiskan waktu berjam-jam tiap harinya. Para wanita dan anak-anak yang paling sering melakukan pekerjaan ini. Jika air dapat diambil dekat rumah, banyak waktu dan tenaga yang bisa dihemat sehingga dapat digunakan untuk kegiatan lainnya. Ini akan meningkatkan kehidupan seluruh keluarga di dalam manajemen proyek.

Memperoleh Air untuk Keluarga/Rumah Tangga
Atap rumah, dapur dan kamar mandi dapat digunakan untuk tempat mengumpulkan air. Atap seng dapat menangkap banyak air ketika hujan. Bambu yang dibelah dapat digunakan sebagai talang untuk mengumpulkan air dan mengalirkannya ke dalam tangki atau drum. Air dapat dibawa ke dalam rumah menggunakan pipa, baik itu pipa besi, paralon, atau bahkan bambu yang sederhana. Air untuk kebun-kebun dan kolam-kolam dapat diambil melalui sengkedan. Buatlah parit-parit sengkedan sehingga air dapat mengalir dengan lambat ke satu arah. Pada akhir aliran di mana air akan meluap, arahkan dengan bebatuan. Air ini kemudian dapat diarahkan ke dalam kolam atau lubang penyimpanan air, dan dapat digunakan untuk ternak, sayuran dan ikan.

Memperoleh Air untuk Masyarakat
  1. Mata air adalah sumber air tradisional. Mata air perlu dilindungi dari binatang dan kerusakan. Lubang tempat minum binatang dapat dibuat terpisah. Bambu atau pipa besi dapat digunakan untuk mengalirkan air ke masyarakat dan menyimpannya di dalam tangki permanen yang cukup besar. Luapan dari tangki penyimpanan dapat digunakan untuk mengairi tanaman buah-buahan dan sayur-sayuran menggunakan parit-parit atau sengkedan. Penggunaan luapan air dalam cara ini juga akan mengurangi masalah nyamuk.
  2. Pompa air dan air bor adalah cara lain yang baik untuk memperoleh air yang dekat dengan rumah. Itu dapat dibuat untuk masing-masing rumah, tetapi akan jauh lebih murah bila digunakan untuk kelompok-kelompok rumah atau masyarakat.
  3. Sumur masyarakat. Sumur masyarakat harus dijaga tetap bersih karena penyakit dapat tersebar dengan cepat melalui air yang kotor. Sumur harus dibangun dengan lingkaran setinggi 1 meter di sekeliling tepinya menggunakan batu dan campuran semen. Ini akan mencegah air kotor kembali ke dalam sumur dan mencegah binatang mengotori sumur. Tempat minum binatang dapat dibuat terpisah. Jangan gunakan ember atau kaleng kotor untuk menimba air. Buatlah penutup untuk sumur untuk mengurangi nyamuk berkembangbiak.
  4. Pemompaan air ke atas bukit untuk kemudian disimpan di tangki-tangki, dapat menggunakan pompa minyak atau pompa pemampat. Pompa pemampat digunakan tanpa minyak dan memerlukan sedikit perawatan. Ada beberapa pompa pemampat yang telah sukses bekerja. (Untuk informasi lebih lanjut tentang pompa ini, bacalah Modul 12 - Teknologi Tepat Guna).
  5. Bekerjalah dengan pemerintah untuk menyediakan air bagi kota-kota dan desa-desa.


Penyimpanan Air
Tangki penyimpanan air yang memiliki keran dapat digunakan untuk menyimpan air. Ini membuat penggunaan air menjadi lebih mudah. Tangki penyimpanan air ini dapat mengumpulkan air dari pipa air, dari air pompa maupun air yang diperoleh dari atap. Tangki ini dapat dibuat dari semen, plastik, timah, atau aluminium. Drum bekas dapat pula digunakan, terutama untuk menangkap air dari atap.

Mereka harus dibersihkan dengan baik untuk menghilangkan bekas minyak, caranya:
1. Cuci dengan baik dengan deterjen.
2. Bilas dengan air.
3. Jemur di bawah matahari selama seminggu sebelum digunakan.

Penghijauan di Sekitar Desa
Reboisasi/penghijauan di sekitar desa dan kota akan banyak menolong penyimpanan air karena:
  1. Lebih banyak hujan masuk ke dalam tanah sehingga erosi dikurangi.
  2. Menyimpan air tanah secara lebih konstan. Ini sangat penting untuk persediaan air di masa yang akan datang.
  3. Menyediakan daun-daun untuk mulsa yang dapat menolong menyimpan air lebih banyak di dalam tanah.
  4. Mengurangi angin kencang yang dapat mengeringkan tanah. Hal ini sangatlah penting, terutama di tempat yang masyarakatnya mengambil air langsung dari dalam tanah. Tanpa pohon-pohon, kualitas air akan berkurang, juga air permukaan tanah akan turun sehingga semakin susah untuk mencapai air. Ini telah terjadi di banyak negara.

PLESTERAN DAN TOILET KOMPOS DI DALAM MANAJEMEN PROYEK


Plesteran
Teknik Sipil - Plesteran merupakan isolasi yang akan menjaga rumah sejuk sepanjang hari dan hangat di malam hari. Plesteran akan menutupi dan melindungi dinding-dinding, dan dapat digunakan
pada batako, lempengan tanah liat, batu dan bahkan bambu. Untuk batako, tanah liat dan batu, semakin tebal campuran, semakin baik isolasinya, dan umur dinding semakin lebih panjang di dalam manajemen proyek.

Campuran untuk plesteran yang murah:
  • 8 bagian pasir.
  • 1 bagian semen.
  • 3 bagian kotoran sapi terfermentasi (kotoran sapidifermentasi dengan cara memasukkan kotoran sapi segar ke dalam ember kemudian diisi air dan dibiarkan 5-7 hari).

Campuran lain yang bisa digunakan sebagai plesteran:
  • 1 bagian tanah liat.
  • 4 bagian pasir.
  • 5 bagian kotoran sapi segar.
  • Kapur basah (tambah air secukupnya). Kotoran sapi membantu menutupi plesteran dan melindunginya dari serangga. Kotoran sapi tidak bau ketika kering! Kapur juga membantu untuk melindungi dinding dari hujan dan bertindak sebagai penangkal serangga di dalam manajemen proyek.

Plesteran untuk bambu dan gedeg (anyaman bambu) Ide ini baik untuk daerah dingin, caranya:
  1. Tutup belahan bambu atau gedeg dengan kawat ram dari luar dan dari dalam, ini akan menahan plesteran pada tempatnya. Memplester di kedua sisi akan membantu menjaga bambu dan gedeg dari serangan serangga, membuatnya bertahan lebih lama, dan meningkatkan perlindungan terhadap panas.
  2. Plester sampai menutup seluruhnya, sampai Anda tidak dapat melihat kawat ram, bambu atau gedegnya. Semakin tebal semakin baik di dalam manajemen proyek.

Toilet Kompos
Kotoran manusia juga dapat diubah menjadi pupuk yang berkualitas. Tetapi harus diperlakukan dan dikomposkan secara baik dan benar sehingga penyakit tidak akan menyebar di dalam manajemen proyek.

Mengkomposkan toilet menyediakan banyak keuntungan:
• Membuat pupuk yang bagus.
• Menggunakan sedikit air, seringkali tidak sama sekali.
• Mengurangi dan mencegah masalah penyakit. Ini mengubah sebuah masalah menjadi sebuah solusi di dalam manajemen proyek.

Lubang Kompos Toilet
Lubang kompos toilet sangat mudah untuk dibuat dan digunakan. Galilah sebuah lubang sederhana yang besar, dengan kedalaman kurang lebih 1 sampai 1,5 m dan berdiameter 2 m. Gunakan tanah yang telah digali keluar untuk membuat sebuah tanggul di sekitar pinggiran lubang. Buatlah lantai yang kuat dengan papan untuk menutupi lubang tersebut. Buatlah sebuah lubang kecil di tengah-tengah lantai menjadi lubang toilet dan buat sebuah penutup lubang tersebut untuk digunakan pada waktu toilet tidak dipakai. 

Bangunlah sebuah rumah toilet yang sederhana mengelilingi lubang toilet untuk memberikan privasi. Ini dapat dibuat dari tiang kayu, bambu, daun palem, atau alang-alang. Apapun bahanbahannya, carilah yang termurah dan tersedia. Letakkan pintunya di bagian arah angin paling sering datang. Ini akan mencegah bau yang tidak sedap. Sebuah pipa ventilasi dapat pula ditambahkan pada lubang toilet untuk menambah percepatan pengomposan dan mengurangi bau yang tak sedap di dalam manajemen proyek. Itu dapat dibuat dari pipa bambu, yaitu bambu yang sekat-sekat buku di dalamnya telah dibersihkan. Bambu ini dimasukkan ke dalam sebuah lubang di lantai toilet. Pastikan semua celah antara pipa dan lantai tertutup, untuk mencegah lalat atau serangga memasukinya. 

Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi penuh tergantung seberapa besar lubang itu dibuat. Biasanya berkisar 1-2 tahun. Ketika toilet telah penuh, galilah dan gunakan sebuah lubang yang lain. Tambahkan lebih banyak daun-daunan, sekam padi, dan bahan lainnya pada lubang pertama, lalu biarkan mengkompos paling sedikit 6 bulan. Setelah itu, kompos kotoran manusia dapat dipindahkan dan digunakan di sekeliling tanaman buah dan bekas lubang dapat digunakan kembali. Pada waktu ini lantai dan dinding perlu dibangun baru di dalam manajemen proyek.

Bagaimana menggunakan toilet kompos:
  • Tambahkan satu genggam penuh sekam padi, kulit kopi atau serbuk gergaji setiap saat toilet digunakan. Ini akan mengubah kotoran menjadi pupuk dan menghentikan baunya. Hal itu sangatlah penting! Satu botol EM (Effective Microorganism) setiap bulannya juga akan membantu proses pengomposan di dalam manajemen proyek.
  • Tambahkan kira-kira 5 genggam penuh abu kayu bakar atau kapur seminggu sekali. Ini akan membantu kotoran membusuk lebih cepat dan membuat pupuk yang berkualitas lebih baik.
  • Tutuplah selalu lubang toilet di lantai ketika tidak digunakan untuk mencegah lalat masuk ke dalam lubang. Lalat dapat menyebarkan penyakit dari kotoran.
  • Tidak diperlukan air di sini. Kotoran bekerja lebih baik dengan sedikit atau dengan tidak ada air sama sekali. Sebaiknya tidak menggunakan lubang ini untuk kencing. Urin bisa digunakan sebagai pupuk ke pohon buah-buahan yang besar.
  • Galilah lubang sejauh mungkin dari sungai. Ini dikarenakan pada musim hujan, bakteri dari toilet mungkin saja masuk ke air sungai melalui air tanah. Ini dapat menyebabkan penyakit ketika orang menggunakan air sungai itu di dalam manajemen proyek.

Tanaman-tanaman
Pisang, labu, gambas dan markisa adalah tanaman terbaik untuk dikembangkan di sekitar tepi toilet. Pohon jeruk dapat juga tumbuh di dekatnya. Bakteri yang berbahaya (dan rasa) tidak akan ditransfer ke dalam tanaman atau buah. Jangan menanam tanaman sayuran berumbi, yang mungkin umbinya menyentuh langsung kotoran. Ini dapat menyebarkan penyakit di dalam manajemen proyek.

MEMBANGUN SEBUAH RUMAH DI DALAM MANAJEMEN PROYEK

Mulai Dengan Rencana
Teknik Sipil - Libatkan semua keluarga dalam proses perencanaan untuk bisa menyampaikan semua keperluan mereka. Perempuan biasanya menghabiskan banyak waktu di sekitar rumah dan oleh karena itu akan mempunyai lebih banyak ide tentang bagaimana keperluan rumah dapat dipenuhi, dan bagaimana mengatasi masalah kesehatan dan kebersihan. Ini juga termasuk bahan-bahan yang digunakan dan bagaimana membuat rumah lebih cantik di dalam manajemen proyek. Jika keperluan ini disepakati maka akan menghemat waktu dan tenaga serta memperbaiki kehidupan semua anggota keluarga. Rencana untuk areal rumah termasuk pepohonan, kebun, areal bagian luar, naungan, dan lain sebagainya. Contohnya menanam pohon anggur atau markisa sebagai peneduh akan menyejukkan rumah, menyediakan tempat santai di luar, dan dapat menghasilkan buah untuk keluarga di dalam manajemen proyek.

Disain atau Rancangan Rumah
Setiap daerah mempunyai disain sendiri-sendiri untuk rumah tradisional mereka. Rumah-rumah ini merefleksikan iklim dan ketersediaan bahan-bahan bangunan serta selera penduduk setempat. Rumah batako umumnya mendasari gaya Portugis atau yang lebih terbaru adalah gaya Indonesia. Kadang-kadang bahan ini tidak disesuaikan dengan iklim, khususnya pada daerah pesisir. Sangat penting untuk memilih bahan-bahan yang betul-betul disesuaikan dengan iklim yang ada. Tapi disain dari bentuk dan ukuran rumah akan membuat perubahan besar pada temperatur, kenyamanan, kekuatan, daya tahan dan pencegahan bencana di dalam manajemen proyek.

Bahan Bangunan
Bahan-bahan bangunan rumah yang paling umum adalah kayu, papan, bambu, alang-alang, batako, semen, genteng dan besi. Ini sangat umum dikenal dan tidak perlu penjelasan tentang bagaimana menggunakan mereka. Bambu, tanah liat dan batu telah digunakan sejak lama dan bahan-bahan bangunan tradisional ini sangat baik jika digunakan dengan tepat. Beberapa ide dan teknik untuk menggunakan mereka akan diterangkan secara sederhana dalam buku ini di dalam manajemen proyek.

Tanah Liat
Jika dibangun dengan baik, batu bata tanah liat atau dinding tanah liat akan bertahan untuk waktu yang sangat lama. Ada perumahan dengan lempengan tanah liat dan batu bata lumpur diberbagai negara yang berumur 100-200 tahun atau lebih! Ada banyak daerah yang mempunyai lempengan tanah liat yang sangat bagus untuk bahan batu bata dan dinding lumpur tanah liat. Rumah berbahan tanah liat akan lebih sejuk di udara panas dibandingkan rumah berbahan batako, tapi tetap saja ventilasi yang bagus merupakan hal yang lebih penting. 

Dinding-dinding tanah liat menyimpan suhu sepanjang hari. Pada malam hari dinding-dinding tanah liat lambat laun akan mengeluarkan suhu panas yang telah disimpan dan secara alami menjaga rumah tetap hangat di dalam manajemen proyek. Rumah berbahan tanah liat baik untuk daerahdaerah yang malam harinya cukup dingin. Lempengan tanah liat untuk dinding dapat dibuat dengan menggunakan tanah liat, air dan beberapa rumput kering. Bahan-bahan tersebut dicampur bersama dan dinding dibangun dimulai pada dasar dan pelan-pelan bertambah. 

Kini tanah liat lebih sering digunakan untuk membuat batu bata. Batu bata dibuat dari tanah liat dan air (sedikit rumput kering dapat juga ditambahkan). Mereka ditaruh ke dalam cetakan dan dipadatkan, lalu dikeluarkan dari cetakan dan dikeringkan. Proses ini mirip dengan proses membuat batako. Dua jenis bata lainnya adalah blok tanah dan blok rumput. Blok-blok tanah dibuat dari tanah liat, tanah biasa, dan ditambahkan 10% semen. Blok-blok rumput dibuat dari tanah perkebunan dan potongan rumput di dalam manajemen proyek.

Batu
Rumah batu membutuhkan waktu yang lama untuk membangunnya, tapi jika sudah terbangun dengan baik akan bertahan dalam waktu yang amat sangat lama. Dinding batu membutuhkan waktu lama untuk menjadi panas, sehingga akan tetap sejuk sepanjang hari. Dinding batu ini menyimpan panas dengan sangat baik, sehingga rumah akan tetap hangat pada malam hari. Keuntungan lain adalah batu dapat dengan mudah dikombinasikan dengan bahan-bahan bangunan lainnya. Ada banyak batu-batuan yang bagus untuk digunakan di dalam manajemen proyek. Masalah utamanya adalah transportasi untuk membawa batu-batu itu.

Bambu
Bambu adalah bahan yang sudah terkenal. Dia dapat digunakan untuk apa saja, termasuk untuk atap, dinding, dekorasi, furnitur dan masih banyak lagi. Bambu sangat baik untuk daerah-daerah panas pesisir karena memberikan ventilasi yang bagus. Dia juga ringan tapi kuat dan mudah dikerjakan. Pemilihan jenis bambu yang tepat, memotongnya pada bagian yang tepat, dan pengawetan akan membuat bambu bertahan lebih lama. (Untuk informasi lebih lanjut tentang bambu, bacalah Modul 8 - Reboisasi dan Penanaman Pohon) di dalam manajemen proyek.

Bahan Campuran
Bahan campuran dimaksudkan membangun rumah dengan menggunakan bahan-bahan yang berbeda. Contohnya batu, kayu dan papan di dalam manajemen proyek. Ini merupakan kombinasi dari bahan apa saja yang Anda inginkan. Rumah yang dibangun dari bahan campuran akan memaksimalkan keuntungan dari masing-masing bahan tersebut, contohnya:
  1. Tanah liat dan batu adalah bahan-bahan terbaik untuk membuat sejuk di siang hari dan hangat di malam hari. Batako tidak bekerja dengan baik tapi cukup bagus jika diplester.
  2. Bambu dan kayu memberikan ventilasi yang baik, harganya juga relatif murah.
  3. Kayu yang bertahan lama, seperti kamper dan jati, dapat membentuk kerangka.
  4. Atap seng bertahan lebih lama dan dapat digunakan untuk menampung air. Atap alangalang cukup murah dan berfungsi lebih baik sebagai penahan panas. Atap bambu juga baik dan juga dapat digunakan untuk mengumpulkan air di dalam manajemen proyek.

PROSES PEMBUANGAN YANG BAIK DI DALAM MANAJEMEN PROYEK

Teknik Sipil - Hal ini mencakup pembuangan terhadap sisa-sisa makanan, air yang telah digunakan, kotoran manusia dan urin/kencing, plastik, kertas, kaleng-kaleng bekas, botol-botol, asap, abu, daun-daun, baterai, mobil tua dan bagian-bagian dari sepeda motor, minyak tua, besi tua dan lain sebagainya di dalam manajemen proyek.

Pembuangan juga meliputi sampah dan polusi yang diciptakan ketika membuat serta mendistribusikan sesuatu, contohnya makanan, mainan plastik dan lain sebagainya. Pembuangan lain juga terjadi saat penggunaan energi, contohnya asap dari generator diesel. Kita terlibat di dalamnya ketika kita membeli produk-produk dan menggunakan energi. Rumah yang dirancang dengan baik akan mengurangi jumlah pembuangan yang dihasilkan. Bertanggung jawab terhadap apa yang Anda beli dan gunakan, akan menguntungkan masa depan dan membantu menjaga lingkungan di dalam manajemen proyek.

Hal berikut juga semestinya dilakukan:
• Kurangi pembuangan yang dihasilkan.
• Menggunakan ulang atau daur ulang sebisa mungkin.
• Tanggung jawab pembuangan.

Manajemen pembuangan yang baik adalah memisahkan pembuangan dan merubah
sebagian besarnya menjadi produk-produk yang bermanfaat, seperti misalnya:
  • Daun-daun adalah mulsa yang berharga dan dapat dibuat pupuk untuk tanaman.
  • Sisa-sisa makanan dapat dijadikan makanan binatang.
  • Air yang telah digunakan dialirkan ke kebun melalui parit-parit.
  • Komposkan limbah ruang cuci dengan menyalurkannya ke pohon-pohon pisang.
  • Komposkan limbah WC dengan mengubah kotoran manusia menjadi pupuk.
  • Abu kayu bakar untuk bahan kompos dan kompos cair.
  • Kotak-kotak plastik untuk menyimpan benih/bibit.
  • Botol-botol air minum mempunyai banyak kegunaan
  • Kaleng-kaleng timah digunakan sebagai kotak pembibitan dan kaleng air.
  • Kertas dapat ditambahkan ke dalam lubang-lubang kompos.
  • Botol-botol kaca dapat dibersihkan dan digunakan ulang untuk menyimpan madu, minyak, minyak kelapa sawit, dan lain sebagainya
  • Ban-ban tua, kaleng, ember rusak dan lain sebagainya dapat digunakan di pembibitan untuk kotak bibit atau pot tanaman bunga.
  • Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Manajemen pembuangan yang buruk adalah membakar segala sesuatunya, membiarkan binatang-binatang memakan kotoran manusia dan membiarkan air yang telah digunakan meluber dan tergenang di tanah. Bahkan manajemen pembuangan yang lebih buruk lagi adalah membuang sampah di sungai. Ini membuat polusi di sungai dan laut dan menyebabkan masalah besar di masa depan. Hal ini juga telihat jelek dan merusak kecantikan lingkungan di dalam manajemen proyek.

Membakar Sampah
Beberapa pembuangan akan tetap dibakar. Jika sampah, khususnya plastik, dibakar dengan cepat pada suhu panas yang tinggi, akan menghasilkan sedikit asap dan ini lebih baik untuk manusia dan lingkungan di dalam manajemen proyek. Membuat lingkaran batu-batu mengelilingi areal pembakaran akan menyediakan tempat di mana sampah dapat dibakar dengan baik. Masukkan sampah ke dalam kantong-kantong plastik dan buang ke dalam areal pembakaran sampai semuanya dapat terbakar sekaligus di dalam manajemen proyek. Ini menciptakan suhu tinggi dan mengurangi asap dan polusi.

Tempat pembakaran ini sebaiknya:
  1. Ditutup atasnya dan pastikan semuanya terbakar. Ini juga untuk mencegah anjing-anjing masuk.
  2. Biarkan celah-celah untuk membiarkan udara masuk guna membantu mempercepat pembakaran pada temperatur tinggi.
  3. Dibuat agak jauh dari rumah, dan pastikan juga arah angin agar asap tidak tertiup ke rumah kita dan tetangga.

BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TEMPAT TINGGAL DI DALAM MANAJEMEN PROYEK

Teknik Sipil - Setiap rumah dipengaruhi oleh tanah dan lingkungan sekitarnya, contohnya:
• Curah hujan, longsor, banjir.
• Angin.
• Suhu.
• Jenis tanah, batuan, pepohonan.
• Penyediaan air.
• Penyakit-penyakit (misalnya dari nyamuk).
Semua faktor ini dapat menjadi pertimbangan dalam membangun atau memperbaiki rumah,
dan lingkungan tempat tinggal, serta mencegah masalah-masalah di kemudian hari didalam manajemen proyek.

Setiap rumah juga mempengaruhi lingkungan sekitarnya, contohnya:
  • Mengkomsumsi makanan, kayu bakar, minyak listrik, bahan-bahan pembersih dan barangbarang rumah tangga umum lainnya.
  • Menghasilkan limbah yang berupa asap, sampah, air kotor, kotoran manusia.
  • Kegiatan berkebun.

Mutlak bagi masa depan untuk mengurangi pengaruh negatif pada lingkungan
sebanyak mungkin, dengan cara:
• Mengurangi penggunaan jumlah bahan-bahan polutan, misalnya tas plastik.
• Mengurangi polusi, misalnya akibat pembakaran.
• Memanfaatkan kembali sampah, misalnya memanfaatkan kotoran hewan dan manusia.
• Membersihkan air kotor dari bahan-bahan polutan sebelum dikembalikan ke sungai.

Ide-ide masyarakat
Ada banyak ide-ide untuk meningkatkan kualitas rumah dan areal tempat tinggal yang dapat
diatur, diterapkan dan dikelola pada tingkat masyarakat. Perbaikan-perbaikan yang tepat akan memberikan hasil yang lebih baik, lebih murah dan lebih mudah untuk dikelola, terlebih lagi apabila masyarakat bekerja sama didalam manajemen proyek. Ini dapat dicapai melalui proses dari pertemuan-pertemuan masyarakat dan kesepakatan bersama. Ini penting bahwa setiap orang dapat mengerti, memberikan masukan, dan mempunyai kepemilikan dari proyek-proyek perbaikan masyarakat tersebut. Juga penting untuk bekerja dengan pemerintah untuk tingkat daerah dan tingkat nasional didalam manajemen proyek.

Kamis, 28 Maret 2013

CONTOH PERHITUNGAN PERENCANAAN PEMBEBANAN PADA ATAP


Beban mati ( D )
Q atap 
= ( Bs. Asbes semen + Bs. Reng + Bs.kaso ) x d
= ( 7 x 0,696 x 1,392 ) 1,759
= 15,986 kg/m

Bs. Atap
= (1/2 Q atap x L ) x 2
= (1/2 ( 15,986 x 6 ) x 2
= 95,916 kg

Bs. Gording
= (1/2 q x L ) x 2
= (1/2 13,2 x 6 ) x 2
= 79,2 kg

Beban mati pada batang atas ( Ga )
Dtotal 
= Bs. Atap + Bs.gording + ikatan gording
= ( 95,916 + 79,2 + 27,044 )
= 202,16 kg

Beban mati pada batang bawah ( Db )
Asumsi ; berat kuda – kuda ( JL ) 50 x 50 x 5
Q = 16,1 kg/m
Berat kuda – kuda = 2 x Q
= 2 x 16,1
= 32,2 kg/m


Dk 
= Berat kuda-kuda X Panjang batang total / (n-1)
= (( 32,2 ) X ( 100,784 )) / (13-1)
= 270,437 kg

Dimana
n
= jumlah titik bahul
= 13

Berat ikatan angin 
= 10% x Dk
= 10% x 270,437
= 72,044 kg

Q bagian bawah 
= panjang batang bawah x ( Bs.triplex + Berat penggantung )
= 1,795 x ( 8,352 + 7 )
= 27,004

Berat sendiri plafon 
= (1/2 bag.bawah x L ) x 2
= 1/2 27,004(x 6 ) x 2
= 162,024 kg

Beban mati pada batang bawah ( Gb )
Dtotal
= berat sendiri plafon
= 162,024
= 162,024 kg

Beban hidup
- berat pekerja ( La ) = 100 kg
- akibat beban hujan

Qh 
= 27,341 x d
= 27,341 x 1,795
= 48,093 kg/m



=( 1/2 Qh x L ) x 2
=( 1/2 48,093 x 6 ) x 2
= 288,558 kg

- Beban angin ( W )
Tekanan angin ( pa ) = 37 kg/m²
Sudut kemiringan atap α = 30,96° < 65°, maka :
C1
= 0,02 α – 0,4
= 0,02 ( 30,96° )– 0,4
= 0,219

Berat di pihak angin ( W1 )
W1 
= C1 x pa x L x d
= 0,219 x 37 x 6 x 1,795
= 85,519 kg
Maka:

W1H
= W1 sin α
= ( 85,519 ) sin 30,96°
= 43,994 kg

W1V 
= W1 cos α
= ( 85,519 ) cos 30,96°
= 73,335 kg



Berat dibelakang angin ( W2 )
W2
= C2 x pa x L x d
= ( - 0,4 ) x 37 x 6 x 1,795
= - 156,199 kg

Menurut perencanaan pedoman untuk rumah dan gedung, untuk semua sudut kemiringan atap (α ) digunakan C2 = - 0,4

W2H
= W2 sin α
= ( -156,199 ) sin 30,96°
= - 84,985 kg

W2V
= W2 cos α
= ( -156,199 ) cos 30,96°
= - 133,945 kg

ALUR PELAYARAN PADA PERENCANAAN PELABUHAN

  1. Alur pelayaran digunakan untuk mengarahkan kapal yang akan masuk ke kolam pelabuhan
  2. Alur pelayaran dan kolam pelabuhan harus cukup tenang terhadap pengaruh gelombang dan arus
  3. Perencanaan alur pelayaran dan kolam pelabuhanditentukan oleh kapal terbesar yang akan masuk ke palabuhan dan kondisi meteorologi dan oseanografi
  4. Dalam perjalanan masuk ke pelabuhan melalui alur pelayaran kapal mengurangi kecepatan sampai kemudian berhenti di dermaga
  5. Ada beberapa daerah yang dilewati selama perjalanan:
  • – Daerah tempat kaapl melempar sauh di luar pelabuhan
  • – Daerah pendekatan di luar alur masuk
  • – Alur masuk di luar pelabuhan dan kemudian di dalam daerah terlindung
  • – Saluran menuju dermaga, apabila pelabuhan berada di dalam daerah daratan
  • – Kolam putar

Pemilihan Karakteristik Alur
Faktor‐faktor yang mempengaruhi pemilihan karakteristik alur masuk ke pelabuhan:
  • – Keadaan trafik kapal
  • – Keadaan geografi dan meteorologi di daerah alur
  • – Sifat‐sifat fisik dan variasi dasar saluran
  • – Fasilitas‐fasilitas atau bantuan‐bantuan yang diberikan pada pelayaran
  • – Karakteristik maksimum kapal‐kapal yang menggunakan pelabuhan
  • – Kondisi pasang surut, arus dan gelombang

Suatu alur masuk ke pelabuhan yang lebar dan dalam akan memberikan keuntungan:
  • Jumlah kapal yang dapat bergerak tanpa tergantung pada pasang surut akan lebih besar
  • Berkurangnya batasan gerak dari kapal‐kapal yang mempunyai draft besar
  • Dapat menerima kapal yang berukuran besar ke pelabuhan
  • Mengurangi waktu penungguan kapal‐kapal yang hanya dapat masuk ke pelabuhan pada waktu air pasang
  • Mengurangi waktu transito barang‐barang

Kedalaman Alur
Elevasi pengerukan alur ditetapkan dari elevasi dasarlaut nominal dengan memperhitungkan:
  • – Jumlah endapan yang terjadi antara dua periode pengerukan
  • – Toleransi pengerukan
  • – Ketelitian pengukuran
Draft Kapal: ditentukan oleh karakteristik kapalterbesar yang menggunakan pelabuhan, muatan yang diangkut, dan juga sifat‐sifat air, seperti
  • – berat jenis,
  • – salinitas dan
  • – temperatur


Squat: pertambahan draft kapal terhadap muka air yang disebabkan olehkecepatan kapal.
Squat diperhitungkan berdasarkan:
  • – Dimensi
  • – Kecepatan kapal
  • – Kedalaman air

Gerak Kapal karena Pengaruh Gelombang
Parameter dalam menentukan elevasi dasar alur nominal:
  • Di laut terbuka yang mengalami gelombang besar dan kecepatan kapal masih besar, ruang kebebasan bruto adalah 20% dari draft kapalmaksimum
  • Di daerah tempat kapal melempar sauh di mana gelombang besar, ruang kebebasan bruto adalah 15% dari draft kapal
  • Alur di luar kolam pelabuhan dimana gelombang besar, ruang kebebasan bruto adalah 15% dari draft kapal
  • Alur yang tidak terbuka terhadap gelombang, ruang kebebasan bruto adalah 10% dari draft kapal
  • Kolam pelabuhan yang tidak terlindung dari gelombang, ruang kebebasan bruto adalah 10‐15% dari draft kapal
  • Kolam pelabuhanyang terlindung dari gelombang, ruang kebebasan bruto adalah 7% dari draft kapal

Lebar alur tergantung pada beberapa faktor:
  • – Lebar, kecepatan dan gerakan kapal
  • – Trafik kapal, apakah alur direncanakan untuk satu atau dua jalur
  • – Kedalaman alur
  • – Apakah alur sempit atau lebar
  • – Stabilitas tebing alur
  • – Angin, gelombang, arus, dan arus melintang dalam alur

Layout Alur Pelayaran
Ketentuan dalam merencanakan trace alur pelayaran:
  • Sedapat mungkin trase alur harus mengikuti garis lurus
  • Satu garis lengkung akan lebih baik daripada sederetan belokan kecil dengan interval pendek
  • Garis lurus yang menghubungkan dua kurva lengkung harus mempunyai panjang minimum 10 kali panjang kapal terbesar
  • Sedapat mungkin alur tersebut harus mengikuti arah arus dominan, untuk memperkecil alur melintang
  • Jika mungkin, pada waktu kapal terbesar masuk pada air pasang, arus berlawanan dengan arah kapal yang datang

Layout Alur Pelayaran
Ketentuan dalam merencanakan trace alur pelayaran:
  • Gerakan kapal akan sulit apabila dipengaruhi oleh arus atau angin melintang. Hal ini dapat terjadi ketika kapal bergerak dari daerah terbuka ke perairan terlindung. Untuk itu maka lebar alur dan mulut pelabuhan harus cukup besar.
  • Pada setiap alur terdapat apa yang disebut titik tidak boleh kembali di mana kapal tidak boleh berhenti atau berputar, dan mulai dari titik tersebut kapal‐kapal diharuskan melanjutkan sampai ke pelabuhan. Titik tersebut harus terletak sedekat mungkin dengan mulut pelabuhan dengan merencanakan/membuat tempat keluar yang memungkinkan kapal‐kapal yang mengalami kecelakaan dapat meninggalkan tempat tersebut, atau dengan membuat suatu lebar tambahan.

CARA PENINJAUAN PERENCANAAN PELABUHAN



Kebutuhan akan pelabuhan timbul untuk memenuhi:
– Pertimbangan politik
– Peningkatan kegiatan ekonomi, perdagangan
– Pendukung kelancaran produksi perusahaan/Pabrik

Persyaratan Pelabuhan
  • Harus ada hubungan yang mudah antara transportasi air dan darat
  • Lokasi yang mempunyai daerah belakang (daerah pengaruh) subur dengan populasi penduduk cukup banyak
  • Kedalaman air dan lebar alur yang cukup
  • Kapal bisa membuang sauh selama menunggu untuk merapat ke dermaga guna bongkar muat barang/mengisibahanbakar
  • Harus mempunyai fasilitas bongkar muat barang
  • Harus mempunyai fasilitas untuk mereparasi kapal

Perlengkapan Pelabuhan
• Pemecah gelombang
• Alat pelayaran
• Kolam pelabuhan
• Dermaga
• Alat penambat
• Gudang lini I dan lapangan terbuka
• Gedung terminal untuk keperluan administrasi
• Fasilitas bahan bakar untuk kapal
• Fasilitas pandu kapal, kapal tunda dan perlengkapan lainnya
• Peralatan bongkar muat barang
• Fasilitas lain


Pemilihan Lokasi Pelabuhan
• Aksesibilitas
• Daerah pengaruh
• Ketersediaan lahan
• Kondisi oceanografi
• Fasilitas pendukung

Kelayakan Pelabuhan
  • Biaya pembangunan dan perawatan bangunan pelabuhan termasuk pengerukan pertama yang harus dilakukan
  • Biaya operasi dan pemeliharaan, terutama pengerukan endapan di alur dan kolam pelabuhan
  • Penghasilan dari pelabuhan untuk dapat mengembalikan biaya investasi yang telah dikeluarkan dan biaya operasional dan pemeliharaan pelabuhan
  • Manfaat dari pelabuhan tersebut terhadap perkembangan daerah pengaruh

PENGERTIAN SIMULASI MORTE CARLO DALAM DUNIA TEKNIK SIPIL



  • Simulasi adalah proses meniru keadaan yang sebenarnya melalui model yang dibuat dengan berbagai asumsi untuk memperkirakan performance suatu sistem.
  • Evaluasi sensitivitas performance sistem terhadap variasi parameter sering dilakukan melalui simulasi yang dilakukan berulang–ulang.
  • Simulasi menjadi alat yang sering digunakan untuk memecahkan masalah sejalan dengan pesatnya perkembangan metode simulasi dan teknologi komputer.
  • Simulasi merupakan suatu cara pemecahan masalah yang dihadapi dan yang biasanya sukar diselesaikan secara eksak.
  • Simulasi Monte Carlo adalah metode pengambilan contoh (sampling method) melalui komputer atau media lainnya.
  • Proses simulasi diulang dengan menggunakan variabel acak yang dibangkitkan sesuai dengan distribusi probabilitasnya.
  • Hal ini dapat dilaksanakan dengan menghasilkan bilangan acak antara nol sampai satu dan melalui transformasi yang sesuai dengan distribusi probabilitasnya.
  • Simulasi Monte Carlo didefinisikan sebagai skema yang menggunakan bilangan acak, yaitu variabel acak dan dipakai untuk memecahkan permasalahan stokastik atau deterministik tertentu di mana berjalannya waktu tidak memegang peranan penting

Lima langkah dalam menerapkan simulasi Monte Carlo
1. Menentukan distribusi probabilitas untuk variabel-variabel yang penting
2. Membuat distribusi probabilitas kumulatif untuk setiap variabel pada langkah pertama
3. Menentukan interval bilangan acak untuk setiap variabel
4. Membangkitkan bilangan acak
5. Mensimulasikan serangkaian percobaan.

CARA MENGHITUNG PEMBEBANAN PADA STRUKTUR BAJA



Pembebanan Lantai 1
Beban mati (DL)
Berat sendiri pelat = tebal pelat x berat jenis beton x koefisien reduksi pelat
= 0,12 x 2400 = 288 kg/m2
Berat sendiri struktur dihitung oleh program ETABS v.9.5.0

Beban mati tambahan (SDL)
Adukan (t = 2cm) = 2 x 21 kg/m2 = 42 kg/m2
Keramik = 24 kg/m2
Plafond + penggantung = 14 kg/m2
M/E = 20 kg/m2
Total SDL (Adukan + Keramik + Plafond + penggantung + M/E = 100 kg/m2
Beban hidup (LL) = 200 kg/m2


Pembebanan Tangga
Beban mati tambahan (SDL)
Adukan (t = 2cm) = 2 x 21 kg/m2 = 42 kg/m2
Keramik = 24 kg/m2
Total SDL (Adukan + Keramik ) = 66 kg/m2
Beban hidup (LL) = 200 kg/m2


Beban Dinding
Beban dinding bata (setengah bata) = 250 kg/m2
Beban dinding pada balok lantai 1 = 4 m x 250 kg/m2 = 1000 kg/m

Rabu, 27 Maret 2013

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI DI DALAM MANAJEMEN PROYEK


Anggaran Biaya Kasar
Sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya kasar digunakan harga satuan tiap meter persegi (m2) luas lantai. Anggaran biaya kasar dipakai sebagai pedoman terhadap anggaran biaya yang dihitung secara teliti. Walaupun namanya anggaran biaya kasar, namun harga satuan tiap m2 luas lantai tidak terlalu jauh berbeda dengan harga yang dihitung secara teliti di dalam manajemen proyek.

Anggaran Biaya Teliti
Anggaran biaya teliti adalah anggaran biaya bangunan atau proyek yang dihitung dengan teliti dan cermat, sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat penyusunan anggaran biaya. Pada anggaran biaya kasar sebagaimana diuraikan terdahulu, harga satuan dihitung berdasarkan harga taksiran setiap luas lantai m2. Taksiran tersebut haruslah berdasarkan harga yang wajar dan tidak terlalu jauh berbeda dengan harga yang dihitung secara teliti di dalam manajemen proyek. Sedangkan penyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti, didasarkan atau didukung oleh: bestek, gunanya untuk menentukan spesifikasi bahan dan syarat-syarat teknis, gambar bestek, gunanya untuk menentukan/menghitung besarnya masing-masing volume pekerjaan, harga satuan pekerjaan, harga satuan pekerjaan diperoleh dari harga satuan bahan dan harga satuan upah berdasarkan perhitungan BOW. BOW (Burgerlijke Openbare Werken) adalah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan oleh Dir. BOW tanggal 28 Februari 1921 Nomor 5372 A pada zaman pemerintahan Hindia Belanda di dalam manajemen proyek.

Karateristik Data Biaya
Data biaya dengan beragam kecermatan diperlukan pada industri ini untuk teori dan praktek ekonomi bangunan. Data-data ini diperlukan selama tahap permulaan proses desain, guna memberikan iklim suatu indikasi biaya yang mungkin berkenaan dengan proyek konstruksi yang diusulkan tersebut. Data-data tersebut mungkin juga diperlukan pada tingkat ketelitian tertentu bilamana proyek berlanjut ke tahap desain dan konstruksi di dalam manajemen proyek.

Data biaya selama tahap awal proses desain dapat dikaitkan dengan fungsi dan desain. Akan tetapi, tingkat kelayakan sangat diragukan dan memerlukan penilaian atas beberapa faktor variabel. Dalam tahap akhir dari proses desain, aspek biaya lebih berkaitan dengan kuantitas dan spesifikasi. Kedua hal diatas merupakan pendekatan tradisional. Suatu pandangan alternatif menyatakan bahwa biaya ditentukan oleh proses, yaitu metode, peralatan, dan sarana yang dipilih oleh kontraktor dalam menentukan biaya di dalam manajemen proyek.

Keakuratan dan Kekonsistenan
Penyusunan semua jenis informasi biaya selalu tidak menyatakan data tersebut akurat. Barangkali satu-satunya kekecualian adalah daftar harga pedagang bahan bangunan, tetapi ini pun dapat sewaktu-waktu berubah tanpa pemberitahuan. Oleh karenanya, data yang tersedia tidak lebih hanya pedoman umum, tetapi sampai seberapa jauh? Hal ini dapat diukur dalam dua cara yang berbeda yaitu keakuratan dan konsistensi. Keakuratan menyatakan kesamaan terhadap nilai aktual, apa pun nilai itu di dalam manajemen proyek. Sebaliknya konsistensi merupakan suatu ukuran sampai berapa lama keakuratan ini dapat dipercaya. Menurut Asworth, A., (1994) menunjukkan bahwa keakuratan kontraktor dalam memberikan estimasi rata-rata berkisar ±10% dan ini merupakan masalah. Dalam keadaan tertentu estimator dapat melakukan 50-60% ketidakakuratan. Hal ini disebabkan oleh adanya masalah dalam pemakain data biaya, karena informasi tersebut sampai taraf tertentu kurang dapat dipercaya. Berikut ini contoh beberapa perbedaan penggunaan koefisien sebagai dasar untuk menentukan biaya konstruksi di dalam manajemen proyek.

CARA MENANGGULANGI DAMPAK KEBAKARAN SEDINI DAN SESEDIKIT MUNGKIN DI DALAM MANAJEMEN PROYEK

Teknik Sipil - Seiring dengan semakin pesat pertumbuhan pembangunan, baik dalam hal perluasan lahan maupun bangunan tinggi dan bangunan pabrik, maka diperlukan juga penanganan mengenai resiko-resiko yang mungkin terjadi seperti kebakaran. Kebakaran pada umumnya terjadi akibat dari kecerobohan manusia, seperti yang sering terjadi adalah membuang puntung rokok tidak pada tempatnya , juga yang banyak terjadi adalah akibat hubungan arus pendek di dalam manajemen proyek.

Kebakaran pada lahan yang luas seperti hutan, dampaknya cukup merugikan dan sulit sekali untuk ditanggulanggi bahkan sering dibiarkan untuk padam dengan sendirinya.
Pada bangunan yang tinggi ataupun bangunan perindustrian kerugian yang didapatkan cukup banyak antara lain materiil dan moril di dalam manajemen proyek.

Memang pada saat ini resiko materiil tersebut dapat ditanggulangi dengan adanya pihak asuransi,tetapi sebaiknya kita tanggulangi kecelakaan kebakaran tersebut sesedikit mungkin.
Permasalahannya adalah mengenai kesiapan berbagai alat penyelamat di luar dan di dalam bangunan serta sumber daya manusia dalam rangka penanggulangan kebakaran baik dari kalangan pemakai gedung maupun dari tim yang mengatur mengenai keamanan dan keselamatan di dalam manajemen proyek.
Pernyataan yang berkaitan dengan situasi terbaru tentang kebakaran serta informasi dasar lainnya ditayangkan sacara teratur pada likasi web CIFOR. Akibatnya CIFOR banyak mendapat perhatian baik dari masyarakat maupun media dan dianggap sebagai sumber informasi yang dapat diandalkan di dalam manajemen proyek.

Penyebab Kebakaran antara lain :
  • Sambaran petir saat hujan .
  • Hubungan pendek arus listrik.
  • Kecerobohan manusia / membuang puntung rokok sembarangan.


Dampak Kebakaran :
  • Penyebaran emisi gas karbon dioksida ke atmosfir.
  • Hilangnya mata pencaharian dari sebagian bahkan seluruhnya dari karyawan.
  • Meningkatkan jumlah penderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan kanker paru paru.
  • Polusi asap yang dapat memperparah penyakit para penderita TBC dan asma.
  • Mengganggu kegiatan yang ada disekitar lokasi.
  • Hilangnya nyawa manusia.

Tujuan Penyelamatan :
  • Mengevakuasi penghuni dan barang.
  • Mencegah api berkembang secara tidak terkendali.
  • Memadamkan api secepatnya.
  • Meminimalkan kerusakkan yang terjadi.

Pentingnya hydrant pada bangunan seperti menurut Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Pemukiman di Daerah (RP4D) ada 2 sistem pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran yaitu sistem proteksi pasif dan sistem proteksi aktif di dalam manajemen proyek.

Sistem proteksi pasif meliputi kemampuan stabilitas struktur bangunan komponen dan bahan bangunan yang dilakukan dengan konstruksi tahan api, dinding kompartemen dan pemisah ruang serta proteksi terhadap bukaan yang ada untuk menahan serta membatasi kecepatan menjalarnya api, asap, dan panas. Sedangkan sistem proteksi aktif meliputi peralatan dalam mendeteksi dan memadamkan api, pengendalian asap dan panas dengan sarana pengamanan seperti tabung alat pemadam kebakaran, mobil pemadam, hydrant, smoke detector, fire alaram, sprinkler dll di dalam manajemen proyek.

Hydrant dan jaringan kelengkapannya sebaiknya ditata sekitar bangunan , mudah dilihat serta mudah dijangkau dan memiliki selang minimum 30 m. Karena dibandingkan denga peralatan lain hydrant lebih efisien dan effektif dalam menanggulangi bahaya kebakaran. Sedangkan air yang diperoleh dapat dari PDAM maupun air sumur bor yang ditampung pada reservoir. Adapun sistem pemipaan untuk hydrant harus dibedakan dari kebutuhan air yang lain seperti kamar mandi ,dapur dll di dalam manajemen proyek.

Suply air untuk hydrant langsung dari reservoir dengan pompa tersendiri serta pemipaan tersendiri pula, maka dari itu harus diperhitungkan dengan cermat pangjang dan diameter selang serta jumlah dan jarak hydrant ke reservoir. Begitu pula dengan instalasi listrik untuk menjalankan hydrant ini dibedakan dengan instalasi pada bangunan. Karena pada saat bangunan terbakar dengan sensirinya instalasi listrik pada bangunan mati tapi instalasi pada hydrant tidak boleh turut mati di dalam manajemen proyek.

Setalah dicermati penyebab dan dampak dari kebakaran serta hubungannya dengan kondisi yang ada dilapangan serta pada teori seperti,

Q = V. A (1)
dimana : Q = debit yang mengalir
V = kecepatan yang melaluinya
A = luas penampang melintang nozel

Dimana debit yang semula berawal dari sebuah reservoir besar kemungkinan bercabang menuju lokasi yang berbeda, maka disini berlaku pula HukumKontinuitas. Untuk membuat tekanan yang cukup di tempat yang diperlukan perlu adanya pompa di dalam manajemen proyek.

PENGERTIAN TSUNAMI DAN PENANGGULANGANNYA

Teknik Sipil - Tsunami adalah gelombang yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunung api di laut
Kejadian tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi di laut tergantung pada beberapa faktor berikut:
– Kedalaman pusat gempa (episentrum) di bawah dasar laut h (km)
– Kekuatan gempa M yang dinyatakan dalam skala Richter
– Kedalaman air di atas episentrum d (m)

Gelombang tsunami mempunyai hubungan erat dengan kekuatan gempa dan kedalaman pusat gempa
Besaran tsunami (m) berkaitan erat dengan kekuatan gempa M, yaitu:
m = 2,26 M – 14,18
Besaran tsunami m juga tergantung pada kedalaman laut (d) di lokasi terbentuknya gempa
m = 1,7 log (d) – 1,7


Beberapa langkah penanggulangan tsunami
  • Daerah sempadan pantai harus cukup lebar dan ditanami dengan tsunami keras
  • Daerah pemukiman ditempatkan di lokasi yang aman, yang ditetapkan berdasar tinggi gelombang tsunami dan topografi daerah
  • Dibuat bangunan pelindung tsunami yang berupa tanggul di sepanjang pantai
  • Fasilitas pelabuhan sebaiknya dipisahkan dari pemukiman, untuk mencegah benda-benda terapung seperti perahu, drum dan benda lainnya dapat menjadi tenaga penghantam yang merusak bila terjadi tsunami
Kenaikan Muka Air karena Gelombang (Wave Set-up)
  • Gelombang yang datang dari laut menuju pantai menyebabkan fluktuasi muka air di daerah pantai terhadap muka air diam
  • Saat gelombang pecah akan terjadi penurunan elevasi muka air rerata terhadap muka air diam di sekitar lokasi gelombang pecah
  • Dari titik di mana gelombang pecah permukaan air rerat miring ke atas ke arah pantai
  • Turunnya muka air tersebut dikenal dengan wave set-down
  • Naiknya muka air tersebut disebut wave set-up


Kenaikan Muka Air karena Angin (Wind Set-up)
  • Angin dengan kecepatan besar (badai) yang terjadi di atas permukaan laut dapat membangkitkan fluktuasi muka air laut yang besar di sepanjang jika badai tersebut cukup kuat dan daerah pantai dangkal dan luas
  • Besar perubahan elevasi muka air tergantung pada kecepatan angin, fetch (panjang daerah di atas mana angin berhembus dengan kecepatan dan arah konstan), kedalaman air dan kemiringan dasar
  • Gelombang badai biasanya terjadi dalam waktu yang bersamaan dengan proses alam lainnya seperti pasang surut
  • Besarnya kenaikan muka air karena badai dapat diketahui dengan memisahkan hasil pengukuran muka air laut selama terjadi badai dengan fluktuasi muka air laut karena pasang surut

PRINSIP PERENCANAAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

Teknik Sipil - Dibanyak tempat diseluruh Indonesia, kombinasi anatara beban gravitasi dan beban gempa akan menentukan status pembebanan. Sudah diketahui secara umum bahwa akibat beban dinamik struktur diharapkan berperilaku daktail dan mempunyai kekuatan sedemikain sehingga memenuhi persyaratan Earthquake Engineering Design Phillosophy (EEDP). Untuk itu maka disain struktur baja di Indonesia harus memakai metode standar sebagaiamna yang telah di atarur dalam Anonim (2000) di dalam struktur baja.

Earthquake Engineering Design Phillosophy (EEDP) sebagaimana disebut sebelumnya perlu dielaborasi sehingga dapat menjadi prinsip kerja disain yang lebih implementatif. Setelah melalui penelitain dan pengujian yang panjang aakhirnya elaborasi EEDP tersebut menjurus pada prinsip disain bangunan tahan gempa sebagaiaman sekarang ini dikenal sebagai Capacity Design Principle (CDP). Perlu juga disadari pada CDP juga baru merupakan prinsip, untuk itu perlu dikembangkan lagi manjadi suatu prosedur disain yang lebih operasional. Didalam CDP, prinsip strong coloumn and weak beam (SCWB) merupakan sifat struktur yang benar dan mungkin dilaksanakan. Dilain fihak syarat yang diperlukan struktur strong beam weak column (SBWC) sangatlah berat dan oleh karena itu sifat struktur ini tidak mungkin dapat dilaksanakan di dalam struktur baja.

Beban Pada Struktur
1. Beban Angin
Beban angin merupakan salah satu beban yang harus dipertimbangkan pada perencanaan bangunan tingkat tinggi. Angin yang membebani bangunan tingkat tinggi bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh fakor-faktor lingkungan seperti kekasaran dan bentuk permukaan serta dipengaruhi oleh perletakan bangunan disekitarnya di dalam struktur baja. Apabila koefisien hembus angina terhadap bangunan adalah Ce, koefisien tekan adalah Cq, tekanan yang diberikan oleh aliran angin adalah qs dan factor keutamaan gedung adalah I, maka gaya lateral akibat beban angin (P). Eksposure D merupakan daerah yang datar dan disekelilingnya tidak ada daratan. Eksposure C adalah daerah datar yang lapang Ekspusure B adalah daerah yang disekeliling bangunan terdapat pohon-pohon dan bangunan lain. qs adalah tekanan yang diberikan oleh aliran angin yang tetap yang dipengaruhi oleh kecepatan angin di dalam struktur baja.
Cq adalah koefisien tekanan yang bergantung dari cara angin mengenai bangunan yaitu apakah angin mengenai langsung bangunan atau angin yang membelakangi (angin isap). Koefisien Cq berturut-turut sama dengan 0,80 dan 0,50 untuk kondisi angin datang dan angin isap. Sesuai dengan TCPKGUBG (2002) untuk gedung biasa faktor keutamaan I =1,0 sedangkan untuk gedung gedung yang lain yang lebih penting mempunyai nilai faktor keutamaan yang lebih tinggi di dalam struktur baja.


2. Beban Gempa Statik Ekivalen.
Beban gempa ekivalen statik dapat dipakai dengan beberapa persyaratan yaitu untuk bangunan reguler dan bangunan yang kelangsingannya sedemikian sehingga respons dinamik masih didominasi oleh mode pertama. Pembatasan tinggi ataupun jumlah tingkat sebenarnya tidak tepat karena belum memperhitungkan kelangsingan (rasio tinggi H dan lebar struktur B). Gaya geser V yang bekerja pada dasar bangunan menurut Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung SNI 03-1726-2000 (TCPKGUBG, 200) di dalam struktur baja.


3. Beban Dinamis Riwayat Waktu
Gempa bumi merupakan getaran yang terjadi didalam tanah, getaran tanah akibat gempa ditunjukkan oleh adanya simpangan, kecepatan, dan percepatan tanah. Bangunan yang memiliki masa dengan percepatan akan menghasilkan gaya gempa efektif, karena menurut hukum Newton, produk antara massa dengan percepatan akan menghasilkan gaya (force), (Widodo, 2001) dan percepatan yang terjadi dipengaruhi oleh kondisi tanah (site effect) dilokasi, maka disarankan akan ada beberapa nilai amplifikasi yang bergantung pada jenis tanah sehingga percepatan tanah akibat gempa dapat ditentukan di dalam struktur baja. Durasi gempa dapat diambil variasi mulai dari durasi pendek dengan kandungan frekuensi tinggi (misalnya gempa koyna), durasi panjang dengan kandungan frekuensi menengah (misalnya gempa El-Centro 1940), dan yang mempunyai kandungan frekuensi rendah (misalnya gempa Parkfield). Dengan ditentuknnya rekaman gempa sebagai beban dinamik, maka analisis struktur dengan beban dinamik dapat dilakukan di dalam struktur baja.

Pembebanan dinamik riwayat waktu yang digunakan memiliki percepatan maksimum yang sama. besarnya skala pecepatan didasarkan pada analisis inelastik bangunan struktur baja Open Frame 15 lantai, dengan menggunakan percepatan gempa Elcentro. Percepatan maksimum yang dipakai adalah 207 cm/dt2 karena dengan percepatan tersebut struktur masih elastik. Dan percepatan tersebut di pakai sama semua untuk semua gempa karena dengan percepatan yang sama dapat diketahui respon gempa terhadap struktur di dalam struktur baja.

KONSEP ANGKUTAN MASSAL DI DALAM REKAYASA JALAN

Teknik Sipil - Konsep Mass Rapid Transit (MRT) seringkali berubah-ubah, dan banyak pendekatan berbeda yang umumnya digunakan untuk membedakan jenis-jenis dan keistimewaan-keistimewaan dari berbagai jenis sistem MRT yang beraneka ragam, terpisah dari hal mendasar yang penting seperti biaya, kapasitas dan teknologi. Hal-hal lain yang digunakan untuk menggambarkan sistem MRT yaitu jarak antara halte, luas jalur khusus, pedoman-pedoman operasional dan sistem panduan di dalam rekayasa jalan.

Mass Rapid Transit juga disebut sebagai angkutan umum, adalah layanan transportasi penumpang. Biasanya dengan jangkauan lokal, yang tersedia bagi siapapun dengan membayar ongkos yang telah ditentukan di dalam rekayasa jalan. Angkutan ini biasanya beroperasi pada jalur khusus tetap atau jalur umum potensial yang terpisah dan digunakan secara eksklusif, sesuai jadwal yang ditetapkan dengan rute atau lini yang di rancang dengan perhentian-perhentian tertentu. Walaupun Mass Rapid Transit dan trem terkadang juga beroperasi dalam lalu lintas yang beragam. Ini dirancang untuk memindahkan sejumlah besar orang dalam waktu yang bersamaan (Lloyd Wright, 2002). Contohnya antara lain bus rapid transit, heavy rail transit, metro, kereta komuter dan light rail transit (GTZ, 2002) di dalam rekayasa jalan.

Perencanaan dan model angkutan umum transportasi perkotaan
Dalam usaha merancang suatu jaringan jalan yang dapat melayani perkembangan sektor/subsektor pembangunan, diperlukan suata analisis mengenai kebutuhan pergerakan lalu lintas jalan raya di masa datang dengan mengacu kepada perkenbangansektor/subsektor yang berkaitan. Terdapat beberapa konsep perencanaaan transportasi yang berkembang sampai saat ini yang paling populer adalah ‘Model Perencanaan Transportasi Empat Tahap’. Model perencanaan ini merupakan gabungan dari beberapa seri submodel yang masing-masing harus dilakukan secara terpisah dan berurutan. Submodel tersebut adalah (Tamin, 2000) di dalam rekayasa jalan:
  • aksesibilitas;
  • bangkitan dan tarikan pergerakan;
  • sebaran pergerakan;
  • pemilihan moda;
  • pemilihan rute;
  • arus lalu lintas dinamis.

Sub-sub model itu dapat dilakukan secara terpisah dengan hasil keluaran dari sub model yang merupakan masukan bagi sub model berikutnya, atau pengembanganya adalah dilakukan secara bersamaan, sehingga terdapat kelompok jenis model (Setijowarno dan Frazila, 2001).
Model bertahap (model kebutuhan transportasi 4 tahap/sequentil 4 stages model; 1) Bangkitan dan tarikan pergerakan (trip generation); 2) Distribusi Perjalanan (trip distribution); 3) Pemilihan moda (moda split); 4) Pembebanan perjalanan (trip assigment), dan Model simultan (simultanuous model) di dalam rekayasa jalan.

Dalam prosesnya, keempat tahap perencanaan ini disesuaikan dengan kondisi yang ada, terutama dalam hal ketersediaan data. Seperti dalam tahap penentuan bangkitan/tarikan perjalanan, dibutuhkan data O-D (Asal-Tujuan), yang sebenarnya dapat diperoleh dari survei lapangan. Namun, mengingat dana serta waktu yang sangat terbatas, maka akan dipergunakan data O-D dari survey O-D Nasional yang dilaksanakan oleh Departemen Perhubungan pada tahun 2001 (dipublikasikan tahun 2002) dan data IRMS pada tahun survey 2001 yang dipublikasikan Dinas Bina Marga di dalam rekayasa jalan.

Tahapan perencanaan itu akan dilakukan dengan menggunakan pemodelan. Model yang dipilih adalah yang dianggap paling cocok untuk pergerakan dalam kota dan juga pergerakan wilayah pinggiran kota yang menuju ke pusat kota atau sebaliknya, juga mempertimbangkan ketersediaan data, serta tingkat akurasi yang diinginkan di dalam rekayasa jalan.

Sistem zona model angkutan umum transportasi perkotaan
Sistem zona merupakan hal yang sulit untuk meninjau dan melakukan pemodelan terhadap bangkitan/tarikan dari masing-masing individu. Karena itu pendekatan dilakukan dalam pemodelannya adalah mengagregasikan individu-individu dalam satuan-satuan wilayah yang biasa disebut zona. Sebelum masuk ke dalam proses perencanaan transportasi, wilayah studi perlu di representasikan ke dalam zona-zona yang lebih kecil, yang merupakan penyederhanaan/pemodelan dari wilayah studi. Yang selanjutnya, semua data yang berkaitan dengan bangkitan dan tarikan perjalanan memiliki tingkat kedalaman sampai zona itu. Zona itu kemudian dianggap sebagai satuan pergerakan terkecil, sehingga seluruh sifat/karakteristik pergerakannya merupakan rata-rata (atau yang dianggap mewakili dari seluruh bagian zona di dalam rekayasa jalan.

Batas-batas zona dapat menggunakan batas administrasi, batas alam (sungai atau pantai), batasan jaringan (jalan, rel kereta api) atau batas jenis guna lahan dan lain-lain. Dalam studi ini, sistem zona yang digunakan adalah berdasarkan wilayah kecamatan di dalam rekayasa jalan.
Umumnya dalam melakukan pemodelan transportasi suatu wilayah kajian tertentu, pengaruh wilayah di sekitarnya tidak bisa diabaikan. Oleh sebab itu harus ikut dimodelkan meskipun tidak perlu serinci model dalam wilayah kajian. Dengan terbentuknya sistem zona yang terdiri atas zona internal dan eksternal, maka sifat pergerakannya pun akan dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut di dalam rekayasa jalan.
  1. Pergerakan di dalam zona (intra zonal trip), yaitu dari dan ke zona yang sama yang umunya diabaikan (dianggap nol);
  2. Pergerakan antar zona internal (inter zonal trip), yaitu pergerakan dari dan ke zona-zona yang termasuk zona internal;
  3. Pergerakan antar zona internal dan eksternal, yaitu pergerakan ke luar/masuk ke wilayah studi;
  4. Pergerakan antar zona eksternal, yaitu pergerakan antarzona yang meleati wilayah studi yang lebih dikenal dengan throught traffic.

Dalam studi ini, titik berat tinjauan adalah pada jaringan jalan antar kota (inter urban roads) dan jalan kota (urban road), yaitu meliputi jalan Arteri dan Kolektor Primer. Pemodelan dari wilayah studi adalah sebagai berikut di dalam rekayasa jalan:
  • Batas kabupaten/kota dijadikan cordon line (batas zona);
  • Ruas jalan arteri/kolektor dijadikan link;
  • Pertemuan ruas jalan arteri/kolektor (kebanyakan kota) dijadikan node;
  • Ibukota kecamatan dala Kota dijadikan centroid (pusat kota)
  • Jalan arteri utama batas Kota dijadikan gateway
Kebutuhan perjalanan model angkutan umum transportasi perkotaan
Pembebanan lalu lintas adalah suatu proses permintaan perjalanan (yang diperoleh dari tahap distribusi) dibebankan ke rute jaringan jalan yang terdiri dari kumpulan ruas-ruas jalan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan arus di ruas jalan dan/atau total biaya jalanan di dalam jaringan yang ditinjau. Dibandingkan tahap-tahap lainnya, dalam tahap ini terjadi interaksi langsung antara permintaan dan sediaan, yang hasilnya dapat dijadikan sebagai ukuran dalam penilaian kinerja (performance) jaringan jalan akibat adanya perubahan (skenario) permintaan dan/atau sediaan di dalam rekayasa jalan.

Secara umum, tahap ini menyangkut tiga komponen utama; yaitu:
  • Matriks pergerakan (kebutuhan pergerakan–demand), seperti yang telah dibahas pada sub-bab sebelumnya. Dalam hal ini akan memakai dasar acuan data volume lalu lintas;
  • Jaringan (sediaan–supplay);
  • Mekanisme pembebanan (termasuk didalamnya pemilihan rute).

Proses pembebanan dalam studi ini memanfaatkan bantuan paket program Saturn. Karena itu, input berupa matriks pergerakan pergerakan serta jaringan jalan harus dibentuk dalam format yang disyaratkan oleh program yang bersangkutan di dalam rekayasa jalan.

Pembentukan matriks kebutuhan perjalanan
dari hasil tahap Peramalan bangkitan tarikan (trip generation) yang kemudian didistribusikan (dalam tahap trip distribution), maka akan diperoleh Matriks OD yang diambil data berasal dari data volume lalu lintas pada zona yang ditinjau. Selanjutnya, matriks itu ’diterjemahkan’ oleh salah satu modul program, yaitu program komputer Saturn

Pembentukan data base jaringan
Data base jaringan berupa pemodelan jaringan yang kemudian disusun sesuai format yang diisyaratkan. Pemodelan jaringan data yang harus diikutsertakan adalah:
  1. Data node, berupa nomor kode dan jenis node (centroid/node);
  2. Data ruas/link (yang menghubungkan dua node), berupa panjang, kecepatan free flow, kapasitas, kode jenis ruas/link, tarif dan arah.

Mekanisme pembebanan model angkutan umum transportasi perkotaan
Matriks pergerakan hasil trip distribution yang telah diterjemahkan oleh model dari program Saturn, kemudian dibebankan ke jaringan jalan yang telah melalui proses di atas, menggunakan metode pembebanan tertentu dengan bantuan modul program yang ada pada program Saturn di dalam rekayasa jalan.

Terdapat beberapa metode pembebanan matriks asal tujuan ke jaringan jalan. Tetapi untuk jalan perkotaan, metoda pembebanan yang dirasa cocok adalah metoda pembebanan semua atau tidak sama sekali (all-or nothing), yaitu merupakan teknik yang paling sederhana dan mula-mula dikembangkan. Metoda ini mengasumsikan, bahwa semua pengendara memiliki persepsi yang sama dan kondisi jalan tidak tergantung jumlah pemakai yang melaluinya. Masalahnya tinggal menentukan rute yang mana yang paling pendek/murah, sehingga semua permintaan perjalanan dibebankan ke rute minimum dan tidak ada satupun yang dibebankan ke rute pilihan lainnya di dalam rekayasa jalan.

Untuk lebih mendekati kenyataan, pembebanan dilakukan dengan memperhitungkan pengaruh kemacetan atau keterbatasan kapasitas, sehingga akan menghasilkan pembebanan yang lebih merata dibandingkan pembebanan a-o-n (all or nothing) murni. Pengaruh kemacetan dalam persamaan ongkos-arus biasanya digambarkan dengan menaiknya ongkos perjalanan sesuai dengan meningkatnya arus. Lazimnya tingkat kenaikan tersebut cenderung lebih cepat bila arus mendekati atau melebihi kapasitas di dalam rekayasa jalan.

Kondisi dengan penanganan, yaitu dengan melakukan analisis penanganan pada setiap pembebanan yang kemudian data jaringan di up-date sesuai rencana penanganan yang diambil. Setelah itu pembebanan berikutnya dilakukan berdasarkan data jaringan yang terbaru. Hasilnya adalah kebutuhan penanganan serta kinerja jaringan dengan adanya penanganan di dalam rekayasa jalan.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BIAYA PENAWARAN KONTRAKTOR PADA SUATU PROYEK KONSTRUKSI

Teknik Sipil - Proyek konstruksi merupakan suatu proses yang di dalamnya terdapat tahapan- tahapan yang saling berkesinambungan dan tujuan akhirnya adalah berupa bangunan fisik. Dalam tahapan-tersebut, tender merupakan salah satu tahap penting dalam suatu proyek konstruksi yang dilakukan. Adanya kebutuhan pemilik proyek terhadap jasa sumber daya, maka dipenuhi dengan cara membeli. Muncullah suatu pemikiran bagaimana cara pengadaaan sumber daya tersebut secara efektif. Sumber daya tersebut kemudian disebut sebagai kontraktor. Maka dapat dikatakan bahwa tender bertujuan untuk memperoleh jasa kontraktor yang akan menyelesaikan suatu proyek konstruksi di dalam manajemen proyek.

Masalah mendasar yang dihadapi oleh kontraktor adalah kemampuannya dalam proses penawaran. Dalam proses penawaran, kontraktor harus memperkirakan dan mengajukan biaya yang tidak terlalu tinggi agar dapat bersaing dengan kontraktor lain dan juga mendapatkan keuntungan yang maksimum dan dengan tujuan akhir yaitu untuk memenangkan proyek. Untuk pertimbangan harga penawaran, pemilik proyek tentunya akan memilih harga terendah yang muncul dari kontraktor tersebut. Penetapan harga penawaran ditentukan oleh berbagai pertimbangan dan kadang hanya berdasarkan naluri bisnis. Hal ini sangat menentukan besar kecilnya keuntungan dan probabilitas memenangkan proyek. Menyadari pentingnya penawaran tersebut, maka diupayakan suatu cara atau strategi yang berfungsi sebagai media pencapaian yang disebut dengan markup. Penentuan markup oleh kontraktor merupakan salah satu strategi yang sering dipakai untuk merancang dan membuat biaya penawaran optimal. Strategi penawaran bagi suatu perusahaan bergantung pada tujuan perusahaan yang di antaranya adalah memaksimumkan keuntungan. Biaya penawaran memiliki 2 (dua) komponen besar yaitu biaya seluruh pekerjaan (biaya langsung) dan biaya tambahan (markup). Markup sering juga disebut sebagai biaya tak langsung di dalam manajemen proyek.

Dalam estimasi biaya proyek, kontraktor akan memanfaatkan strategi markup. Markup berfungsi sebagai biaya tambahan untuk menutupi biaya overhead dan mengatasi segala hal yang mungkin terjadi di masa yang akan datang, serta sebagai sumber keuntungan. Markup merupakan selisih antara harga penawaran dengan estimasi biaya pekerjaan. Berdasarkan uraian singkat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa markup merupakan faktor yang sangat mempengaruhi biaya penawaran. Oleh karena itu, tinggi rendahnya markup akan sangat menentukan besar kecilnya biaya penawaran yang diajukan kontraktor di dalam manajemen proyek.

Dengan melihat uraian di atas, maka secara garis besar komponen rencana anggaran biaya penawaran dapat digambarkan sebagai berikut :
Komponen biaya penawaran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa negara dan melakukan perbandingan maka telah diperhitungkan batas maksimum nilai mark up dari nilai suatu proyek. Mark up dikatakan sukses jika nilainya maksimum atau tertinggi. Berdasarkan perkembangan konstruksi di dunia pada umumnya, maka dilakukan penelitian dalam dunia pekerjaan konstruksi khususnya terhadap biaya yang ditawarkan maka di tentukan 4 (empat) ukuran dan tingkatan mark up yaitu : low (rendah), medium (sedang), medium-high (cukup tinggi) dan high (tinggi). Low mark up diperhitungkan sebesar ± 4 %, medium mark up diperhitungkan sebesar ± 6 %, medium-high mark up diperhitungkan sebesar ± 8 % dan high mark up diperhitungkan ≥ 10 %. Namun, yang dikatakan sebagai mark up sukses adalah mark up yang dilakukan seoptimum mungkin. Dengan mempertimbangkan keadaan tersebut, maka dilakukan suatu studi oleh para estimator sehingga memperoleh batas rata-rata mark up sebesar ± 5 % di dalam manajemen proyek.

Dalam menentukan harga penawaran biasanya harga satuan bahan sudah di tambahkan dengan nilai nominal tertentu yang besarnya juga tergantung pertimbangan cost estimator. Sedangkan untuk harga satuan upah dan alat ditetapkan berdasarkan peraturan dari perusahaan itu sendiri. Nilai nominal tertentu di atas tersebut yang dinamakan mark up. Namun perlu diketahui sekali lagi bahwa mark up ini dilakukan untuk menutupi biaya tetap perusahaan dan di- harapkan dapat menutupi risiko-risiko yang tidak bisa diprediksi sebelumnya di dalam manajemen proyek.

Pada kenyataannya bahwa dalam menaksir biaya penawaran, kontraktor sedapat mungkin ingin menghindari segala risiko yang mungkin saja terjadi. Namun, hal itu tidak mungkin bisa diatasi dengan mudah karena berhadapan dengan keadaan dunia perekonomian dan perdagangan yang selalu mengalami perubahan. Banyak faktor baik dari dalam maupun dari luar perusahaan yang mungkin saja menjadi kendala bagi kontraktor untuk menentukan besarnya biaya penawaran dan juga dalam menentukan keputusan untuk pemberlakuan mark up atau tidak dan apabila dilakukan mark up, kontraktor harus dapat memperkirakan berapa besar mark up tersebut. Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi mark up yang tentunya mempengaruhi besar kecilnya biaya penawaran dan kesempatan untuk memenangkan tender tersebutdi dalam manajemen proyek .

a. Faktor utama

1. Fluktuasi dollar yang tidak menentu
Pengaruh mata uang asing dalam perekonomian sangat signifikan. Adanya perubahan naik turun mata uang asing terhadap nilai rupiah berdampak terhadap harga bahan-bahan kebutuhan masyarakat, mulai dari kebutuhan sandang, pangan dan papan. Ketidakstabilan nilai tukar dolar terhadap rupiah ini menjadi masalah dalam setiap kegiatan pasar dan perdagangan. Dalam upaya penyediaan dana konstruksi dan pelaksanaannya juga di- pengaruhi oleh hal tersebut di dalam manajemen proyek.

Pengaruh ketidakstabilan nilai tukar dapat berpengaruh mulai dari awal proses penawaran pelaksanaan konstruksi khususnya dalam pembuatan RAB (Rencana anggaran biaya) sampai pada proses pelaksanaannya. Pada kenyataannya hal ini biasanya berpengaruh terhadap harga bahan/material dan harga peralatan baik yang dibeli ataupun disewa. Pengaruh besar yang nampak dan teraplikasi, contohnya adalah pada pekerjaan struktur beton yaitu terhadap harga besi yang merupakan salah satu bahan/material utama yang selalu berubah-ubah harganya. Oleh karena itu, dalam rencana anggaran biaya pada proyek ini khusus pada harga satuan bahan besi dan satuan harga satuan pekerjaan yang menggunakan besi tulangan dilakukan mark up. Begitu juga dengan harga bahan-bahan seperti semen, pasir, ubin, barang-barang elektronik, genteng, cat, barang-barang untuk kebutuhan pekerjaan plumbing dan sanitair dan lain-lain tetap dipengaruhi oleh fluktuasi dolar yang walaupun kenaikannya tidak terlalu besar dan signifikan. Namun tetap ada pengaruhnya walaupun kecil dan kesemuanya itu perlu diperhatikan supaya apabila terjadi sesuatu risiko nanti, maka setidaknya sudah mempunyai persiapan sebelumnya untuk membantu mengatasi di dalam manajemen proyek.

Hal yang sama terjadi dan berpengaruh pula pada harga bahan/material elektronika. Pemberlakuan mark up pada bagian ini disebabkan karena adanya pengadaan material elektronik yang secara bertahap dan adanya kebutuhan tambahan yang nantinya akan dipergunakan. Biaya untuk pengadaan peralatan juga ikut dipengaruhi oleh hal di atas. Pengadaan alat pada suatu proyek konstruksi sering dilakukan dengan cara menyewa atau membeli. Apabila dilakukan pembelian alat, maka harga pasaran sangat dipengaruhi oleh fluktuasi dolar tersebut di dalam manajemen proyek.

2. Lokasi
Faktor tempat/lokasi merupakan salah satu kendala sekaligus sebagai tantangan dalam kelangsungan dan kelancaran suatu proyek konstruksi. Hal ini sangat berpengaruh terhadap mobilitas bahan/material, tenaga buruh, peralatan dan lain sebagainya. Yang dihadapi oleh proyek ini adalah letak lokasi proyek yang cukup jauh dari daerah perkotaan dan jauh dari tempat suplier bahan/ material sehingga perusahaan ini mengalami kesulitan dalam mobilitasnya. Kontraktor melihat kondisi dan letak proyek sebagai suatu hal yang harus diperhatikan dan perlu dicari solusi. Hal ini bertujuan sekedar sebagai suatu bentuk persiapan darurat siap pakai jika pada suatu saat nanti terjadi risiko yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, dilakukan mark up untuk menangani dan mengatasi masalah transportasi yang mungkin terjadi karena pertimbangan keadaan lokasi tersebut. Selain itu juga karena mempertimbangkan jalur transportasi melalui daerah cukup sulit dan rumit untuk mencapai lokasi proyek sehingga perlu diperhatikan faktor kesulitan mencapai lokasi di dalam manajemen proyek.

3. Waktu
Dalam suatu perencanaan pembangunan, ada banyak hal yang saling mempengaruhi dan saling bergantung satu sama lain. Selalu dalam suatu perencanaan, butuh suatu target yang akan dicapai dalam jangka pendek atau jangka panjang. Kesemuanya itu merupakan suatu bagian dari suatu perencanaan yang baik. Untuk mencapai target tersebut, maka kita membutuhkan sesuatu yang disebut waktu. Untuk kasus pelaksanaan suatu proyek, biasanya telah ditentukan sejak awal waktu pelaksanaan sampai penyelesaian proyek tersebut sehingga dapat terlaksana dengan baik. Seperti halnya untuk bidang-bidang lainpun, perlu suatu target yang ingin dicapai secara bertahap seiring berjalannya waktu. Namun perlu disadari bahwa, perencanaan yang telah dilakukan sejak awal harus disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan yang terjadi di lingkungan sekitar. Kondisi dan keadaan lingkungan sangat mendukung dan mempengaruhi suatu pekerjaan dan secara khusus mempengaruhi waktu pelaksanaan suatu proyek. Terlepas dari semuanya itu, maka harus dilihat kembali pada tujuan awal yaitu dapat menyelesaikan suatu proyek pembangunan sesuai target yang diinginkan dan sesuai waktu yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan awal dengan sempurna, maka dibutuhkan dukungan dari hal-hal yang saling mempengaruhi di dalam manajemen proyek.

Dalam pelaksanaan proyek, total waktu yang telah ditentukan biasanya disesuaikan dengan banyaknya pekerjaan yang akan dilakukan selama proyek berlangsung. Tapi kadang-kadang yang terjadi adalah, seringkali pemilik proyek menghendaki agar proyeknya dapat terselesaikan dengan lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Hal ini menjadi dilema bagi kontraktor untuk memikirkan bagaimana caranya memaksimalkan segala sesuatu untuk mewujudkan harapan tersebut baik dari segi biaya, tenaga, peralatan, dan lain sebagainya. Namun, yang paling berpengaruh adalah masalah biaya yang membutuhkan penambahan-penambahan khusus dalam jumlah tertentu. Hal ini bertujuan agar dapat memaksimalkan yang lainnya. Di samping itu, tujuan lainnya yaitu untuk meraih sedikit keuntungan dari yang ditambahkan di dalam manajemen proyek.

Yang terjadi pada proyek ini adalah adanya permintaan dari pemilik proyek akan kebutuhan tempat pekerjaan karena begitu besarnya perhatian pemerintah terhadap keadaan hutan dan alam. Sehingga harus membuat perencanaan yang lebih teliti dari pihak kontraktor, pemilik proyek dan pihak-pihak lain yang terkait. agar tidak aada pekerjaan yang terlupakan Perencanaan tersebut termasuk di dalamnya adalah perencanaan biaya, pembuatan penjadwalan kerja, dan hal-hal lainnya. Berdasarkan keadaan waktu tersebut, maka wajar saja jika dilakukan mark up pada biaya penawaran oleh kontraktor karena memperhatikan dan mempertimbangkan faktor waktu di dalam manajemen proyek.

4. Faktor keamanan
Untuk melaksanakan dan menyelesaikan proyek, perlu suatu kondisi yang kondusif dan menjamin. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kondisi yang aman dan terkendali secara khusus di lingkungan sekitar tempat pekerjaan. Oleh karena itu keamanan merupakan faktor yang sangat penting sehingga perlu diperhatikan dalam kelangsungan dan berjalannya suatu proyek. Karena begitu sangat penting itulah, umumnya pada setiap proyek kontraktor memasukkan faktor keamanan dengan mempertimbangkan kondisi tempat proyek atau lokasi proyek yang terletak di daerah yang rawan terjadinya kehilangan aset-aset dan bahan/material di proyek karena berada di daerah pemukiman masyarakat yang . Salah satu hal yang memperkuat kontraktor adalah pengalaman-pengalaman yang terjadi di masa lampau yang membawa kerugian, dan mengharapkan agar hal yang sama tidak terjadi lagi di dalam manajemen proyek.



b. Faktor pendukung

1. Kelangkaan material/bahan
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tujuan dilakukan mark up selain mendapatkan keuntungan adalah untuk menutupi segala risiko dan biaya overhead serta sebagai suatu persiapan yang dilakukan untuk mencegah dan mengatasi hal-hal atau kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin saja tidak terjadi sekarang tetapi terjadi di waktu yang akan datang. Dengan memperhatikan kondisi dan perkembangan tingkat persediaan material atau bahan konstruksi di masyarakat dan pasaran, maka kontraktor merasa perlu untuk mempersiapkan solusi sebelumnya untuk mengatasi kemungkinan terjadinya kelangkaan material. Oleh karena itu, kondisi pasaran dan persediaannya sangat mempengaruhi ketersediaan suatu barang. Pada proyek ini, kontraktor mengasumsikan kemungkinan terjadinya kelangkaan material atau bahan konstruksi seperti pasir dan semen dengan merk atau jenis tertentu yang mungkin saja terjadi. Kedua bahan tersebut sangat penting dan merupakan bahan atau unsur utama dalam pekerjaan plesteran dan pekerjaan beton. Sehingga harus dipikirkan jenis lain untuk mengganti sebagai material atau bahan pengganti tetapi masih dalam bentuk dan kegunaan serta kualitas yang sama dengan barang yang pernah digunakan di dalam manajemen proyek.


2. Biaya overhead yang tidak menentu
Salah satu hal yang menjadi perhatian juga adalah ketidaktentuan besarnya biaya overhead yang akan ditanggung oleh kontraktor. Adanya perkembangan dan perubahan kondisi perekonomian dan harga barang dan jasa bisa mempengaruhi sebagian dari biaya penawaran. Kebutuhan barang dan jasa seperti listrik, telepon dan bahan bakar merupakan hal penting terhadap berjalannya suatu proyek. Apalagi karena setiap pekerjaan di lapangan membutuhkan peran barang dan jasa seperti di atas dengan tingkat yang cukup besar. Karena pentingnya kebutuhan barang dan jasa tersebut, maka perlu perlu perhatian yang khusus juga di dalam manajemen proyek. Yang menjadi pertimbangan dan perhatian kontraktor pada proyek ini adalah adanya isu tentang kenaikkan tarif dasar listrik (TDL) dan kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mungkin saja kenaikkannya sangat besar dan berpengaruh terhadap biaya penawaran. Kontraktor memikirkan bahwa dengan adanya kenaikkan tersebut, maka mungkin saja akan menghasilkan biaya pakai yang lebih besar dan lebih tinggi dari yang direncanakan dengan memperhatikan tingkat kebutuhan bahan-bahan tersebut yang akan terjadi selama proyek dilaksanakan. Dengan adanya kenaikkan tersebut, akan berpengaruh pada besar kecilnya nilai atau biaya overhead pada proyek tersebut di dalam manajemen proyek. Biaya overhead ini merupakan bagian dari biaya penawaran dan cukup mempengaruhi keuntungan yang akan diperoleh kontraktor. Dengan demikian akan terlihat hubungan antara kondisi lamanya waktu pekerjaan di proyek dengan besarnya kebutuhan di proyek. Untuk mencegah hal itu, maka kontraktor memikirkan untuk melakukan mark up pada biaya penawaran sebagai satu cara atau solusi yang cukup baik untuk dilakukan di dalam manajemen proyek.

Banyak hal-hal kecil yang mungkin saja bisa menghasilkan dampak yang besar dan mengakibatkan yang buruk pada kelancaran pelaksanaan suatu proyek konstruksi. Faktor luar lainnya seperti keadaan cuaca, hari libur nasional dan lain sebagainya. Semakin besar mark up yang dilakukan akan mempengaruhi besarnya keuntungan yang dapat di peroleh kontraktor di dalam manajemen proyek.


 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates