Kamis, 28 Maret 2013

ALUR PELAYARAN PADA PERENCANAAN PELABUHAN

  1. Alur pelayaran digunakan untuk mengarahkan kapal yang akan masuk ke kolam pelabuhan
  2. Alur pelayaran dan kolam pelabuhan harus cukup tenang terhadap pengaruh gelombang dan arus
  3. Perencanaan alur pelayaran dan kolam pelabuhanditentukan oleh kapal terbesar yang akan masuk ke palabuhan dan kondisi meteorologi dan oseanografi
  4. Dalam perjalanan masuk ke pelabuhan melalui alur pelayaran kapal mengurangi kecepatan sampai kemudian berhenti di dermaga
  5. Ada beberapa daerah yang dilewati selama perjalanan:
  • – Daerah tempat kaapl melempar sauh di luar pelabuhan
  • – Daerah pendekatan di luar alur masuk
  • – Alur masuk di luar pelabuhan dan kemudian di dalam daerah terlindung
  • – Saluran menuju dermaga, apabila pelabuhan berada di dalam daerah daratan
  • – Kolam putar

Pemilihan Karakteristik Alur
Faktor‐faktor yang mempengaruhi pemilihan karakteristik alur masuk ke pelabuhan:
  • – Keadaan trafik kapal
  • – Keadaan geografi dan meteorologi di daerah alur
  • – Sifat‐sifat fisik dan variasi dasar saluran
  • – Fasilitas‐fasilitas atau bantuan‐bantuan yang diberikan pada pelayaran
  • – Karakteristik maksimum kapal‐kapal yang menggunakan pelabuhan
  • – Kondisi pasang surut, arus dan gelombang

Suatu alur masuk ke pelabuhan yang lebar dan dalam akan memberikan keuntungan:
  • Jumlah kapal yang dapat bergerak tanpa tergantung pada pasang surut akan lebih besar
  • Berkurangnya batasan gerak dari kapal‐kapal yang mempunyai draft besar
  • Dapat menerima kapal yang berukuran besar ke pelabuhan
  • Mengurangi waktu penungguan kapal‐kapal yang hanya dapat masuk ke pelabuhan pada waktu air pasang
  • Mengurangi waktu transito barang‐barang

Kedalaman Alur
Elevasi pengerukan alur ditetapkan dari elevasi dasarlaut nominal dengan memperhitungkan:
  • – Jumlah endapan yang terjadi antara dua periode pengerukan
  • – Toleransi pengerukan
  • – Ketelitian pengukuran
Draft Kapal: ditentukan oleh karakteristik kapalterbesar yang menggunakan pelabuhan, muatan yang diangkut, dan juga sifat‐sifat air, seperti
  • – berat jenis,
  • – salinitas dan
  • – temperatur


Squat: pertambahan draft kapal terhadap muka air yang disebabkan olehkecepatan kapal.
Squat diperhitungkan berdasarkan:
  • – Dimensi
  • – Kecepatan kapal
  • – Kedalaman air

Gerak Kapal karena Pengaruh Gelombang
Parameter dalam menentukan elevasi dasar alur nominal:
  • Di laut terbuka yang mengalami gelombang besar dan kecepatan kapal masih besar, ruang kebebasan bruto adalah 20% dari draft kapalmaksimum
  • Di daerah tempat kapal melempar sauh di mana gelombang besar, ruang kebebasan bruto adalah 15% dari draft kapal
  • Alur di luar kolam pelabuhan dimana gelombang besar, ruang kebebasan bruto adalah 15% dari draft kapal
  • Alur yang tidak terbuka terhadap gelombang, ruang kebebasan bruto adalah 10% dari draft kapal
  • Kolam pelabuhan yang tidak terlindung dari gelombang, ruang kebebasan bruto adalah 10‐15% dari draft kapal
  • Kolam pelabuhanyang terlindung dari gelombang, ruang kebebasan bruto adalah 7% dari draft kapal

Lebar alur tergantung pada beberapa faktor:
  • – Lebar, kecepatan dan gerakan kapal
  • – Trafik kapal, apakah alur direncanakan untuk satu atau dua jalur
  • – Kedalaman alur
  • – Apakah alur sempit atau lebar
  • – Stabilitas tebing alur
  • – Angin, gelombang, arus, dan arus melintang dalam alur

Layout Alur Pelayaran
Ketentuan dalam merencanakan trace alur pelayaran:
  • Sedapat mungkin trase alur harus mengikuti garis lurus
  • Satu garis lengkung akan lebih baik daripada sederetan belokan kecil dengan interval pendek
  • Garis lurus yang menghubungkan dua kurva lengkung harus mempunyai panjang minimum 10 kali panjang kapal terbesar
  • Sedapat mungkin alur tersebut harus mengikuti arah arus dominan, untuk memperkecil alur melintang
  • Jika mungkin, pada waktu kapal terbesar masuk pada air pasang, arus berlawanan dengan arah kapal yang datang

Layout Alur Pelayaran
Ketentuan dalam merencanakan trace alur pelayaran:
  • Gerakan kapal akan sulit apabila dipengaruhi oleh arus atau angin melintang. Hal ini dapat terjadi ketika kapal bergerak dari daerah terbuka ke perairan terlindung. Untuk itu maka lebar alur dan mulut pelabuhan harus cukup besar.
  • Pada setiap alur terdapat apa yang disebut titik tidak boleh kembali di mana kapal tidak boleh berhenti atau berputar, dan mulai dari titik tersebut kapal‐kapal diharuskan melanjutkan sampai ke pelabuhan. Titik tersebut harus terletak sedekat mungkin dengan mulut pelabuhan dengan merencanakan/membuat tempat keluar yang memungkinkan kapal‐kapal yang mengalami kecelakaan dapat meninggalkan tempat tersebut, atau dengan membuat suatu lebar tambahan.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates